Multifinance

Mengapa Rupiah Lebih Tangguh dari Mata Uang Negara Lain Saat Ketegangan Iran Meningkat?

Ryando Putra Jameni
×

Mengapa Rupiah Lebih Tangguh dari Mata Uang Negara Lain Saat Ketegangan Iran Meningkat?

Sebarkan artikel ini
Mengapa Rupiah Lebih Tangguh dari Mata Uang Negara Lain Saat Ketegangan Iran Meningkat?

Ilustrasi rupiah sempat menjadi sorotan di tengah ketegangan geopolitik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran. Meski mengalami depresiasi sejak konflik tersebut meledak, kinerja rupiah justru dinilai lebih stabil dibandingkan sejumlah mata uang negara tetangga. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa pelemahan rupiah masih tergolong moderat dan wajar mengingat dinamika pasar global yang tengah menguatkan dolar AS.

Purbaya menegaskan bahwa depresiasi rupiah sebesar 0,3 persen sejak awal konflik hingga Maret 2026 lebih ringan dibandingkan negara-negara sekitar. Misalnya, Ringgit Malaysia yang terdepresiasi 0,5 persen, Baht Thailand yang turun 1,6 persen, dan Peso Filipina yang melemah 1,4 persen dalam periode yang sama. Dolar Singapura bahkan mencatatkan angka yang identik dengan rupiah, yakni 0,3 persen.

Kinerja Rupiah di Tengah Geopolitik Global

Perbandingan ini menunjukkan bahwa rupiah tidak sendirian menghadapi tekanan pasar. Namun, responsnya terbilang lebih stabil. Ini menjadi indikator bahwa ketahanan eksternal Indonesia masih kuat, seiring dengan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang terjaga. Masyarakat mungkin merasa khawatir, terutama saat melihat nilai tukar yang fluktuatif. Namun, posisi rupiah secara keseluruhan masih dalam batas wajar.

Purbaya juga menyampaikan bahwa banyak kritik datang dari publik, terutama melalui media sosial. Ia meminta masyarakat menilai kondisi rupiah secara objektif dan membandingkannya dengan negara lain, bukan hanya dari sentimen emosional. Menurutnya, kinerja rupiah mencerminkan bahwa Indonesia masih dianggap memiliki fondasi ekonomi yang kuat dan kebijakan makro yang terjaga.

1. Depresiasi Rupiah Terhadap Dolar AS

Sejak konflik geopolitik meledak, rupiah mengalami depresiasi sebesar 0,3 persen secara month-to-date (mtd). Angka ini tercatat lebih rendah dibandingkan sejumlah mata uang Asia Tenggara. Meski demikian, depresiasi ini tidak serta merta berarti rupiah sedang bermasalah. Ini lebih merupakan respons terhadap penguatan dolar AS yang sedang terjadi secara global.

Baca Juga:  Purbaya Dorong Pertumbuhan Ekonomi 6% dengan Fokus Pantau Belanja K/L Kuartal I!

2. Perbandingan Depresiasi Mata Uang Asia Tenggara

Berikut adalah data depresiasi mata uang negara-negara Asia Tenggara sejak awal konflik hingga Maret 2026:

Negara Mata Uang Depresiasi (mtd)
Indonesia Rupiah 0,3%
Malaysia Ringgit 0,5%
Thailand Baht 1,6%
Filipina Peso 1,4%
Singapura Dolar Singapura 0,3%

3. Faktor Penyebab Depresiasi Rupiah

Depresiasi rupiah tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor utama yang memengaruhi arah nilai tukarnya:

  • Penguatan dolar AS secara global sebagai safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik.
  • Lonjakan harga komoditas global yang memengaruhi neraca perdagangan.
  • Sentimen investor yang cenderung menghindari risiko (risk-off) di pasar emerging market.

4. Respons Kebijakan Pemerintah

Pemerintah dan Bank Indonesia terus memantau perkembangan nilai tukar. Koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci agar rupiah tetap stabil. Purbaya menyebut bahwa fondasi ekonomi Indonesia masih kuat, dan itu menjadi modal penting dalam menjaga kepercayaan pasar.

Fundamental Ekonomi yang Terjaga

Fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih positif. Ini memberikan sinyal kuat bahwa investasi jangka panjang, khususnya di pasar modal, masih memiliki prospek baik. Purbaya berharap bahwa kondisi ini akan mendorong kembali investor untuk kembali menanamkan modalnya di pasar saham domestik.

Kondisi ini juga didukung oleh data terkini nilai tukar rupiah. Pada perdagangan Rabu, rupiah menguat 12 poin atau 0,07 persen menjadi Rp16.851 per USD. Angka ini menunjukkan bahwa meski ada tekanan, rupiah tetap bisa pulih secara bertahap.

5. Prediksi Kurs Rupiah ke Depan

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan bahwa rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp16.800 hingga Rp16.950 per USD. Prediksi ini didasarkan pada dua hal utama:

  • Penurunan harga minyak global yang mendorong penguatan rupiah.
  • Ketegangan geopolitik yang masih berlangsung dan berpotensi memicu volatilitas jangka pendek.
Baca Juga:  Purbaya Tawarkan Insentif Menarik Jika Target Pajak 11% Terpenuhi!

6. Faktor yang Perlu Diwaspadai

Meski kinerja rupiah tergolong stabil, ada beberapa risiko yang perlu terus diwaspadai:

  • Eskalasi konflik di Timur Tengah yang bisa memicu lonjakan harga energi.
  • Kebijakan moneter The Federal Reserve yang berpotensi memperkuat dolar lebih lanjut.
  • Sentimen investor global yang masih rentan terhadap risiko geopolitik.

Penilaian Realistis terhadap Kondisi Rupiah

Rupiah memang mengalami depresiasi, tapi bukan berarti sedang dalam krisis. Dibandingkan negara-negara tetangga, kinerjanya justru lebih stabil. Ini menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masih dianggap cukup kuat oleh pasar internasional. Masyarakat pun sebaiknya tidak terlalu panik, apalagi membandingkan rupiah dengan mata uang negara maju yang memiliki stabilitas berbeda.

Purbaya menekankan bahwa Indonesia memiliki kebijakan makro yang terjaga dan koordinasi antarlembaga yang baik. Ini adalah modal penting agar rupiah tetap bisa bertahan di tengah gejolak global.

7. Tips Menyikapi Fluktuasi Nilai Tukar

Bagi masyarakat yang merasa terdampak fluktuasi nilai tukar, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

  • Hindari keputusan finansial impulsif akibat perubahan nilai tukar jangka pendek.
  • Fokus pada investasi jangka panjang yang tidak terlalu sensitif terhadap volatilitas mata uang.
  • Pantau perkembangan kebijakan makroekonomi agar lebih siap menghadapi perubahan.

Penutup

Depresiasi rupiah sejak meletusnya konflik Iran memang terjadi, tapi tidak lebih parah dari negara lain. Bahkan, jika dibandingkan dengan tetangga sekitar, kinerja rupiah tergolong stabil. Ini menunjukkan bahwa Indonesia masih dianggap memiliki ekonomi yang terjaga dan kebijakan yang konsisten. Meski begitu, tetap perlu waspada terhadap risiko global yang bisa memicu volatilitas lebih lanjut.

Disclaimer: Data dan prediksi dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi geopolitik dan ekonomi global.