PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali membagikan kabar gembira bagi para pemegang sahamnya. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar belum lama ini, BCA menyetujui pembayaran dividen tunai sebesar Rp336 per saham. Angka ini mencerminkan komitmen bank terhadap konsistensi pemberian nilai tambah kepada investor, seiring dengan kinerja keuangan yang terus menunjukkan pertumbuhan positif.
Dividen senilai Rp336 per saham tersebut mencakup pembayaran dividen interim sebesar Rp55 per saham yang telah dibayarkan sebelumnya pada 22 Desember 2025. Artinya, sisa pembayaran yang akan diterima pemegang saham sebesar Rp281 per saham akan segera mengalir dalam waktu mendatang. Dengan rasio pembagian dividen sebesar 72 persen dari laba bersih tahun buku 2025, BCA menunjukkan bahwa bank ini tetap menjaga keseimbangan antara pengembalian kepada pemegang saham dan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Rencana Dividen dan Keputusan Strategis BCA
1. Pembayaran Dividen Tahunan dan Interim
BCA tidak hanya membagikan dividen akhir tahun, tetapi juga telah merencanakan pembayaran dividen interim sebanyak tiga kali sepanjang tahun 2026. Rencana ini akan diwujudkan dalam pembayaran per kuartal, asalkan kondisi keuangan bank tetap memungkinkan. Langkah ini menunjukkan bahwa BCA berupaya memberikan kepastian dan keuntungan rutin bagi para investor.
2. Rencana Buyback Saham
Selain dividen, RUPST juga menyetujui rencana pembelian kembali saham (shares buyback) senilai maksimal Rp5 triliun. Buyback ini biasanya dilakukan untuk meningkatkan nilai saham dan memberikan sinyal positif kepada pasar bahwa manajemen percaya pada prospek jangka panjang perusahaan.
3. Perombakan Struktur Dewan Komisaris dan Direksi
Dalam agenda yang sama, BCA juga melakukan penyegaran struktur kepemimpinan. Beberapa nama lama meninggalkan posisinya, sekaligus menyambut kehadiran direktur baru. David Formula resmi diangkat sebagai direktur setelah lulus uji kesesuaian (fit and proper test) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Berikut susunan dewan komisaris dan direksi BCA setelah RUPST:
Dewan Komisaris
- Presiden Komisaris: Jahja Setiaatmadja
- Komisaris: Tonny Kusnadi
- Komisaris Independen: Raden Pardede
- Komisaris Independen: Sumantri Slamet
Direksi
- Presiden Direktur: Hendra Lembong
- Wakil Presiden Direktur: Armand Wahyudi Hartono
- Wakil Presiden Direktur: John Kosasih
- Direktur: Subur Tan
- Direktur (Kepatuhan): Lianawaty Suwono
- Direktur: Santoso
- Direktur: Vera Eve Lim
- Direktur: Haryanto Tiara Budiman
- Direktur: Frengky Chandra Kusuma
- Direktur: Antonius Widodo Mulyono
- Direktur: Hendra Tanumihardja
- Direktur: David Formula
Kinerja Keuangan BCA di Tahun 2025
1. Pertumbuhan Laba Bersih
BCA mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp57,5 triliun di tahun 2025. Angka ini naik 4,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan bahwa bank tetap mampu menjaga performa bisnisnya meski di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah.
2. Peningkatan Kredit dan Dana Pihak Ketiga
Dari sisi intermediasi, total kredit BCA tumbuh 7,7 persen secara tahunan, mencapai Rp993 triliun per Desember 2025. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi, yaitu 10,2 persen tahunan, hingga mencapai Rp1.249 triliun di akhir tahun yang sama.
| Indikator | Nilai (Rp) | Pertumbuhan (YoY) |
|---|---|---|
| Laba Bersih | 57,5 triliun | 4,9% |
| Total Kredit | 993 triliun | 7,7% |
| Dana Pihak Ketiga (DPK) | 1.249 triliun | 10,2% |
Apa Arti Dividen Tinggi bagi Investor?
Bagi investor jangka panjang, dividen yang tinggi seperti yang diberikan BCA menjadi indikator bahwa bank ini tidak hanya fokus pada pertumbuhan aset, tetapi juga pada pengembalian kepada pemilik modal. Dengan rasio dividen 72 persen, BCA menunjukkan bahwa bank ini memiliki likuiditas yang sehat dan mampu membagi keuntungan secara konsisten.
Namun, penting juga untuk melihat bahwa pembagian dividen yang besar bisa mengurangi dana yang digunakan untuk ekspansi atau investasi jangka panjang. Namun dalam kasus BCA, pertumbuhan DPK dan kredit yang tetap positif menunjukkan bahwa bank ini mampu menjaga keseimbangan antara pengembalian investor dan pertumbuhan bisnis.
Strategi Ke Depan BCA
1. Fokus pada Fundamental Bisnis
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menyampaikan bahwa bank akan terus fokus pada penguatan fundamental bisnis. Ini mencakup efisiensi operasional, pengelolaan risiko yang ketat, serta inovasi layanan perbankan digital yang sesuai dengan kebutuhan nasabah modern.
2. Konservatif dalam Pengambilan Risiko
BCA berkomitmen untuk melangkah secara prudent pada tahun 2026. Artinya, setiap langkah strategis akan dipertimbangkan dengan matang, terutama dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
3. Penguatan Digital Banking
Sebagai salah satu bank terdepan di Indonesia dalam layanan digital, BCA terus mengembangkan platform dan produk digitalnya. Ini termasuk aplikasi mobile yang user-friendly, layanan internet banking yang aman, serta integrasi teknologi finansial (fintech) untuk memperluas jangkauan layanan.
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini bersifat terbatas hingga tanggal publikasi dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kebijakan perusahaan dan regulasi yang berlaku. Pembayaran dividen dan rencana buyback saham tunduk pada persetujuan dan kondisi keuangan BCA di masa mendatang. Data keuangan dan struktur manajemen dapat diperbarui secara berkala oleh manajemen perusahaan.
Ryando Putra Jameni merupakan jurnalis dan editor konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Ryando berkomitmen menghadirkan informasi keuangan yang akurat, terpercaya, dan bermanfaat bagi masyarakat.












