Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa isu resesi yang belakangan berhembus di tengah masyarakat tidak mencerminkan kondisi riil perekonomian Indonesia. Sebaliknya, berdasarkan sejumlah indikator makroekonomi, perekonomian Tanah Air justru menunjukkan tanda-tanda penguatan yang cukup signifikan.
Salah satu bukti yang ia kemukakan adalah Purchasing Manager’s Index (PMI) sektor manufaktur yang mencatat angka 53,8 pada Februari 2026. Angka ini merupakan level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan menunjukkan bahwa sektor industri sedang berada di fase ekspansi.
Ekonomi Indonesia Masih Menunjukkan Momentum Positif
Purbaya menilai, banyak pihak yang terlalu pesimistis menilai kondisi ekonomi nasional. Padahal, data-data resmi justru menunjukkan sebaliknya. Ia menyebut bahwa tren ekonomi saat ini sedang mengalami akselerasi, bukan perlambatan.
Selain PMI, indikator lain seperti Mandiri MSI juga mencatat kenaikan. Pada periode yang sama, indeks tersebut berada di level 360,7 dengan tren yang terus naik. Ini menjadi salah satu sinyal bahwa aktivitas ekonomi di lapangan mulai menggeliat.
1. PMI Manufaktur di Level Tertinggi
Purchasing Manager’s Index (PMI) adalah indikator awal yang digunakan untuk mengukur kesehatan sektor manufaktur. Angka di atas 50 menunjukkan ekspansi, sedangkan di bawah 50 berarti kontraksi.
Pada Februari 2026, PMI manufaktur Indonesia mencapai 53,8. Ini adalah level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan menunjukkan bahwa produksi di sektor industri sedang tumbuh.
2. Mandiri MSI Naik Signifikan
Mandiri MSI adalah indeks yang menggambarkan kondisi makroekonomi berdasarkan data frekuensi tinggi. Pada Februari 2026, indeks ini mencatat angka 360,7 dengan tren kenaikan yang konsisten.
Naiknya Mandiri MSI menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi secara keseluruhan sedang bergerak positif, terutama di sektor riil.
3. Penjualan Mobil Naik 12,2 Persen
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan mobil pada Februari 2026 tumbuh 12,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat, khususnya di segmen menengah ke atas, masih cukup kuat.
4. Penjualan Ritel Naik 6,9 Persen
Selain penjualan mobil, sektor ritel juga mencatatkan pertumbuhan positif. Data menunjukkan bahwa penjualan ritel tumbuh 6,9 persen secara tahunan pada Februari 2026.
Ini menjadi indikator bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi penggerak utama perekonomian nasional.
5. Indeks Kepercayaan Konsumen Capai 125,2
Bank Indonesia mencatat indeks kepercayaan konsumen berada di level 125,2 pada Februari 2026. Angka ini tergolong tinggi dan menunjukkan bahwa masyarakat masih optimis terhadap kondisi ekonomi ke depan.
Optimisme ini penting karena berdampak langsung pada keputusan konsumsi dan investasi di tingkat individu maupun perusahaan.
Faktor Pendorong Penguatan Ekonomi
Berbagai faktor internal dan eksternal turut mendukung penguatan ekonomi nasional. Di dalam negeri, kebijakan fiskal yang responsif dan pengelolaan APBN yang efektif memberikan ruang gerak yang baik bagi pertumbuhan.
Di sisi lain, stabilitas politik dan keamanan hukum yang terjaga membuat investor tetap percaya untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
1. Stabilitas Kebijakan Fiskal
Pemerintah terus menjaga konsolidasi fiskal dengan tetap memprioritaskan pengeluaran produktif. Ini membantu menjaga momentum pertumbuhan tanpa mengorbankan stabilitas makro.
2. Kepercayaan Investor Meningkat
Indeks kepercayaan investor terhadap Indonesia terus membaik. Ini tercermin dari masuknya sejumlah investasi asing yang langsung berdampak pada penciptaan lapangan kerja dan peningkatan produksi.
3. Reformulasi Regulasi untuk Investasi
Pemerintah juga terus melakukan penyederhanaan regulasi untuk menarik lebih banyak investasi. Ini termasuk percepatan proses perizinan dan peningkatan transparansi dalam pengambilan keputusan.
Tantangan yang Masih Perlu Diwaspadai
Meski kondisi ekonomi menunjukkan tren positif, sejumlah tantangan tetap perlu diwaspadai. Inflasi global, ketidakpastian geopolitik, dan volatilitas harga komoditas masih menjadi risiko yang bisa memengaruhi stabilitas ekonomi domestik.
1. Inflasi Global yang Terus Bergerak
Kenaikan harga energi dan bahan pangan di pasar global masih menjadi ancaman terhadap tekanan inflasi di dalam negeri. BI terus waspada dan siap melakukan intervensi jika diperlukan.
2. Ketidakpastian Situasi Internasional
Konflik geopolitik dan ketegangan antarnegara besar bisa berdampak pada rantai pasok dan perdagangan internasional. Ini perlu antisipasi dari berbagai pihak, termasuk pelaku usaha.
3. Volatilitas Harga Komoditas
Harga minyak mentah dan komoditas penting lainnya masih fluktuatif. Ini bisa memengaruhi neraca perdagangan dan cadangan devisa nasional.
Perbandingan Indikator Ekonomi Bulan Lalu vs Tahun Sebelumnya
| Indikator | Februari 2026 | Februari 2025 | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| PMI Manufaktur | 53,8 | 51,2 | +2,6 poin |
| Mandiri MSI | 360,7 | 342,5 | +18,2 poin |
| Penjualan Mobil | 105.000 unit | 93.600 unit | +12,2% |
| Penjualan Ritel | – | – | +6,9% (yoy) |
| Indeks Kepercayaan Konsumen | 125,2 | 118,4 | +6,8 poin |
Kesimpulan
Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini tidak sedang mengalami resesi. Justru sebaliknya, sejumlah indikator menunjukkan bahwa momentum pertumbuhan sedang berjalan dengan baik.
Namun, pemerintah tetap mengingatkan agar semua pihak tidak lengah. Tantangan global masih ada, dan kewaspadaan tetap diperlukan agar momentum positif ini bisa terus berlanjut.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat sesuai kondisi Februari 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi makro dan faktor eksternal lainnya.
Popy Lestary merupakan jurnalis keuangan dan kreator konten yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya mencakup perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Popy berkomitmen menyajikan informasi yang akurat, relevan, dan bermanfaat bagi pembaca dari semua kalangan.












