Ilustrasi kenaikan harga emas. Foto: Freepik.
Harga emas kembali menunjukkan tanda-tanda pemulihan di tengah dinamika pasar global yang penuh gejolak. Setelah sempat terkoreksi cukup dalam sejak konflik di Timur Tengah memanas, logam mulia ini kini mulai menemukan titik keseimbangan baru. Goldman Sachs, salah satu bank investasi paling berpengaruh di Wall Street, masih mempertahankan proyeksi optimisnya bahwa harga emas bisa mencapai USD5.400 per troy ons menjelang akhir 2026.
Ramalan ini bukan muncul begitu saja. Ada beberapa faktor kuat yang mendukung ekspektasi tersebut, termasuk penurunan suku bunga Federal Reserve, normalisasi posisi spekulatif di pasar komoditas, serta permintaan berkelanjutan dari bank sentral di seluruh dunia. Meski sempat terkoreksi hingga 15 persen dari level tertinggi, analis Goldman Sachs tetap yakin tren jangka panjang emas masih positif.
Faktor Pendorong Pemulihan Harga Emas
1. Penurunan Suku Bunga Federal Reserve
Salah satu pendorong utama adalah ekspektasi penurunan suku bunga Fed. Dalam kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, investor cenderung mencari aset yang lebih aman. Emas menjadi pilihan karena tidak memberikan yield tetap seperti obligasi. Ketika suku bunga turun, daya tarik emas sebagai aset non-yield meningkat.
2. Normalisasi Posisi Spekulatif
Pada awal tahun ini, posisi spekulatif di pasar emas mencapai level ekstrem. Banyak investor yang terlalu optimis, menciptakan gelembung permintaan. Namun, seiring waktu, posisi ini mulai normal kembali. Menurut Goldman Sachs, normalisasi ini berkontribusi sekitar USD195 per troy ons terhadap harga emas.
3. Pembelian Bank Sentral Global
Bank sentral di berbagai negara masih menjadi pembeli besar emas. Dengan cadangan devisa yang terus bertambah, permintaan emas dari sektor publik tetap tinggi. Goldman memperkirakan pembelian bulanan bank sentral bisa kembali mencapai 60 ton, memberikan dorongan sekitar USD535 per troy ons.
Perilaku Emas dalam Berbagai Jenis Guncangan Inflasi
Emas tidak selalu bereaksi sama terhadap setiap jenis inflasi. Tergantung penyebabnya, logam mulia ini bisa justru terlihat kurang menarik, atau malah melonjak tajam.
1. Inflasi Akibat Gangguan Pasokan
Saat inflasi disebabkan oleh gangguan pasokan—seperti yang terjadi akibat konflik di Timur Tengah—emas biasanya tidak langsung menguntungkan. Pasalnya, gangguan ini sering kali direspons dengan kebijakan moneter yang ketat, yang justru menekan harga emas.
2. Inflasi Akibat Kebijakan Moneter Longgar
Sebaliknya, ketika inflasi berasal dari kebijakan moneter yang longgar atau ekspektasi penurunan nilai mata uang, emas menjadi sangat menarik. Investor melihat emas sebagai pelindung terhadap devaluasi uang kertas.
Skenario Harga Emas ke Depan
Goldman Sachs tidak hanya menyebut satu skenario. Ada beberapa kemungkinan harga emas ke depan, tergantung pada perkembangan geopolitik dan ekonomi global.
1. Skenario Dasar: USD5.400 pada Akhir 2026
Ini adalah skenario yang paling diunggulkan oleh Goldman Sachs. Dalam kondisi normal, dengan penurunan suku bunga Fed dan pembelian bank sentral yang stabil, harga emas bisa mencapai target ini menjelang akhir 2026.
2. Skenario Optimis: Hingga USD6.100
Jika ketegangan geopolitik semakin memanas—terutama di kawasan sensitif seperti Greenland dan Venezuela—investor global bisa semakin beralih ke aset netral seperti emas. Dalam skenario ini, harga bisa melonjak hingga USD6.100.
3. Skenario Pesimis: Turun ke USD3.800
Namun, jika situasi ekonomi global memburuk, likuidasi besar-besaran bisa terjadi. Dalam skenario buruk, harga emas bisa turun hingga USD3.800 akibat tekanan jual dari investor yang mencari likuiditas.
Perbandingan Skenario Harga Emas (USD per Troy Ons)
| Skenario | Harga Emas Akhir 2026 |
|---|---|
| Dasar | 5.400 |
| Optimis | 6.100 |
| Pesimis | 3.800 |
Mengapa Emas Masih Menarik?
Meski sempat terkoreksi, emas tetap memiliki daya tarik tersendiri. Alokasi emas dalam portofolio investor swasta di negara Barat masih sangat rendah. Rata-rata, kepemilikan ETF emas hanya sekitar 0,2 persen dari total portofolio swasta di AS. Ini menunjukkan bahwa masih banyak ruang bagi kenaikan harga jika sentimen investor berubah.
Selain itu, emas tidak hanya dilihat sebagai aset investasi. Di banyak negara berkembang, emas juga digunakan sebagai simpanan nilai jangka panjang dan instrumen keuangan informal. Permintaan dari negara-negara ini bisa menjadi pendorong tambahan harga ke depan.
Disclaimer
Proyeksi harga emas ini bersifat prediktif dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi global, kebijakan moneter, dan situasi geopolitik. Data yang digunakan bersifat estimasi berdasarkan analisis Goldman Sachs dan tidak menjamin hasil aktual di masa depan.
Bintang Fatih Wibawa merupakan penulis dan jurnalis yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Bintang berkomitmen menyajikan informasi keuangan yang akurat, faktual, dan bermanfaat bagi pembaca.












