Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok ke zona merah pada perdagangan Kamis, 26 Maret 2026. Penurunan ini mencatatkan angka 1,89 persen atau minus 138,029 poin, sehingga indeks menutup di level 7.164. Pergerakan ini mencerminkan tekanan dari sentimen global yang masih rapuh, ditambah volatilitas harga minyak dunia yang berpotensi memicu kenaikan suku bunga AS.
Sebelumnya, IHSG sempat dibuka di posisi 7.313. Namun sepanjang sesi, indeks bergerak terbatas antara level tertinggi 7.323 dan terendah 7.152. Volume perdagangan mencapai 31,144 miliar saham dengan nilai transaksi Rp32,348 triliun. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp12,620 triliun dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.725.785 kali. Dari total saham yang diperdagangkan, 292 saham menguat, 380 saham melemah, dan 148 saham lainnya stagnan.
Dinamika Sentimen Global dan Geopolitik
Sentimen pasar saham Indonesia tidak berdiri sendiri. Pergerakan IHSG sangat dipengaruhi oleh isu global, terutama ketegangan geopolitik antara AS dan Iran. Ketegangan ini memicu keresahan investor dan mendorong aliran modal ke aset yang dianggap aman.
1. Tawaran Damai AS kepada Iran
AS mengajukan proposal damai berisi 15 poin, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz dan pembongkaran fasilitas nuklir Iran. Namun, Iran menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan damai yang sedang berlangsung. Negara tersebut bahkan menyatakan tidak akan menghentikan konflik sebelum semua tuntutannya dipenuhi.
2. Tuntutan Iran yang Kompleks
Iran menuntut beberapa hal penting, antara lain:
- Penghentian penuh perang, bukan hanya gencatan senjata
- Pengakuan atas kontrol Selat Hormuz
- Pencabutan sanksi ekonomi
- Kompensasi atas kerugian yang dialami
- Kebebasan untuk menjalankan program militer
Meski komunikasi masih berjalan melalui mediator seperti Pakistan, Turki, dan Mesir, jarak pandangan antara AS dan Iran masih sangat lebar.
3. Pasar Antara Harapan dan Kenyataan
Menurut Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, kondisi pasar saat ini berada dalam fase “hope vs reality”. Setiap kabar positif dari pihak AS langsung memicu optimisme sesaat. Namun, penyangkalan dari Iran dengan cepat mengembalikan investor ke zona waspada.
Volatilitas Harga Minyak dan Dampaknya
Harga minyak dunia juga menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan IHSG. Kenaikan harga minyak bisa memicu inflasi dan memaksa bank sentral untuk menaikkan suku bunga. Ini berpotensi memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.
4. Ekspektasi Suku Bunga Global Berubah
Sebelumnya, pasar memperkirakan The Fed akan melakukan dua kali pemangkasan suku bunga dalam tahun ini. Namun, ekspektasi tersebut mulai goyah seiring dengan lonjakan harga minyak mentah jenis WTI yang berada di kisaran USD80 hingga USD100 per barel.
5. Pandangan BofA tentang Harga Minyak
Bank of America (BofA) menyatakan bahwa harga minyak saat ini berada di zona “hawkish” bagi The Fed. Artinya, jika harga minyak tetap tinggi, kemungkinan bank sentral AS akan menaikkan suku bunga justru meningkat. Namun, jika kenaikan harga bersifat sementara dan berdampak pada penurunan konsumsi, maka The Fed bisa kembali bersikap “dovish”.
Rekomendasi untuk Investor
Di tengah ketidakpastian ini, investor perlu bersikap lebih hati-hati. Liza menyarankan agar investor tidak terburu-buru melakukan pembelian saham secara besar-besaran. Sebaliknya, strategi seperti average up bisa diterapkan, asal dilakukan dengan perhitungan matang dan manajemen risiko yang ketat.
6. Strategi Average Up yang Disiplin
Average up adalah strategi di mana investor menambah pembelian saham saat harganya turun untuk menurunkan harga rata-rata beli. Namun, strategi ini hanya efektif jika dilakukan dengan disiplin dan analisis yang tepat. Investor harus memastikan bahwa saham yang dibeli memiliki fundamental yang kuat.
7. Pentingnya Manajemen Risiko
Manajemen risiko yang baik mencakup beberapa hal, antara lain:
- Menetapkan stop loss untuk membatasi kerugian
- Diversifikasi portofolio untuk mengurangi risiko konsentrasi
- Tidak memaksakan transaksi hanya karena harga sedang murah
Data Perdagangan Hari Ini
Berikut adalah ringkasan data perdagangan IHSG pada Kamis, 26 Maret 2026:
| Keterangan | Nilai |
|---|---|
| Penutupan IHSG | 7.164 |
| Perubahan Poin | -138,029 |
| Persentase Perubahan | -1,89% |
| Volume Saham | 31,144 miliar |
| Nilai Transaksi | Rp32,348 triliun |
| Kapitalisasi Pasar | Rp12,620 triliun |
| Frekuensi Transaksi | 1.725.785 kali |
| Saham Menguat | 292 |
| Saham Melemah | 380 |
| Saham Stagnan | 148 |
Disclaimer: Data di atas bersifat real time dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi pasar.
Kesimpulan
Pergerakan IHSG yang turun 1,89 persen pada Kamis mencerminkan tekanan dari sentimen global yang masih tidak menentu. Ketegangan AS-Iran dan volatilitas harga minyak menjadi faktor utama yang memicu pelemahan indeks. Investor disarankan untuk tetap waspada dan menerapkan strategi investasi yang disiplin agar dapat bertahan di tengah ketidakpastian pasar.
Popy Lestary merupakan jurnalis keuangan dan kreator konten yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya mencakup perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Popy berkomitmen menyajikan informasi yang akurat, relevan, dan bermanfaat bagi pembaca dari semua kalangan.












