Multifinance

Harga Minyak Brent Tembus USD103,69 per Barel, WTI Mendekati USD99,31!

Nurkasmini Nikmawati
×

Harga Minyak Brent Tembus USD103,69 per Barel, WTI Mendekati USD99,31!

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak Brent Tembus USD103,69 per Barel, WTI Mendekati USD99,31!

Harga minyak global kembali mengalami lonjakan tajam menjelang akhir pekan. Brent mencatatkan level tertinggi di USD103,69 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di USD99,31 per barel. Lonjakan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait konflik Iran yang berdampak langsung pada jalur pasokan strategis seperti Selat Hormuz.

Kenaikan harga minyak ini bukanlah fenomena mendadak. Dalam dua pekan terakhir, Brent melonjak hingga 43,1 persen, sedangkan WTI mencatat kenaikan yang lebih tajam, yaitu 48,2 persen. Lonjakan ini dipicu oleh gangguan pasokan yang signifikan akibat eskalasi konflik di kawasan yang menyebabkan ketidakpastian berkepanjangan.

Dinamika Pasar Minyak di Tengah Ketegangan Geopolitik

Pergerakan harga minyak saat ini mencerminkan reaksi pasar terhadap sejumlah faktor besar, mulai dari kebijakan pemerintah hingga gangguan pasokan global. Meskipun berbagai langkah telah diambil untuk menstabilkan pasar, hasilnya belum sepenuhnya efektif.

1. Pelepasan Cadangan Minyak Strategis oleh IEA

Badan Energi Internasional (IEA) mencatatkan langkah besar dengan melepaskan cadangan minyak darurat sebanyak 400 juta barel. Ini merupakan pelepasan cadangan terbesar dalam sejarah. Namun, dampaknya terhadap harga minyak terbilang terbatas, karena pasokan global masih terus terancam oleh ketegangan di Timur Tengah.

2. Kebijakan AS terhadap Minyak Rusia

Pemerintah Amerika Serikat mengizinkan pembelian minyak Rusia yang sudah berada di laut sebagai langkah darurat. Langkah ini diambil untuk mengurangi tekanan pada harga minyak global. Namun, kebijakan ini menuai kritik karena dianggap bertentangan dengan sanksi yang selama ini diberlakukan terhadap Moskow.

3. Ancaman Blokade Selat Hormuz

Selat Hormuz, yang menjadi jalur penting bagi distribusi minyak global, kini menjadi fokus utama. Iran mengancam akan memblokir selat tersebut sebagai respons terhadap serangan dari AS dan Israel. Jika benar-benar terjadi, dampaknya akan sangat luas, karena sekitar 20 persen minyak global melewati jalur ini.

Baca Juga:  Minyak Mentah Brent Diprediksi Tembus USD150 per Barel, Apakah Ini Awal Kenaikan Harga Global?

Fluktuasi Harga Minyak dalam Sepekan

Perjalanan harga minyak dalam satu pekan terakhir bisa dibilang sangat dramatis. Pada awalnya, Brent sempat menyentuh level USD120 per barel, namun kemudian turun hingga ke bawah USD90 per barel. Fluktuasi ini menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas pasar minyak saat ini.

Beberapa faktor berkontribusi pada volatilitas ini:

  • Pelepasan cadangan strategis oleh IEA
  • Pengecualian terhadap pembelian minyak Rusia
  • Serangan terhadap infrastruktur minyak di Timur Tengah
  • Ketidakpastian terkait eskalasi konflik Iran-Israel

Meskipun demikian, para analis menyatakan bahwa situasi belum sepenuhnya kritis. Minyak mentah Iran masih bisa mengalir meski dengan volume yang terbatas. Jalur pipa alternatif di Arab Saudi dan UEA juga membantu mengurangi tekanan pada jalur laut.

Proyeksi Harga Minyak ke Depan

Investor kini tengah memperkirakan kemungkinan kenaikan harga minyak dalam tiga bulan ke depan. Menurut data dari pasar opsi, peluang harga Brent mencapai USD100 atau lebih tinggi berada pada rasio 1 banding 5. Artinya, masih ada ruang bagi kenaikan lebih lanjut.

Beberapa analis memperkirakan bahwa agar seimbang dengan guncangan sebelumnya seperti invasi Rusia di Ukraina, harga minyak perlu mencapai level USD125 hingga USD150 per barel. Jika gangguan pasokan berlangsung lama, harga bisa bertahan di level tinggi selama berbulan-bulan.

Berikut adalah perbandingan guncangan pasokan minyak sepanjang sejarah berdasarkan data JPMorgan:

Peristiwa Kenaikan Harga (%) Durasi (Bulan) Harga Puncak (USD/Barel)
Krisis Minyak 1973 +300 12 12
Revolusi Iran 1979 +150 18 40
Perang Teluk 1990 +200 8 40
Krisis Minyak 2008 +120 6 147
Pandemi dan Perang Ukraina +80 12 130
Konflik Iran 2026 (saat ini) +35 (saat ini) 103

Catatan: Data di atas bersifat estimasi dan dapat berubah seiring perkembangan situasi.

Peran Militer AS dalam Mengamankan Jalur Pasokan

AS telah menyatakan akan mengerahkan Angkatan Laut untuk mengawal kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap ancaman blokade dari Iran. Namun, hingga kini, detail operasional belum diungkap secara lengkap.

Baca Juga:  Mengapa Indonesia Beralih Impor Minyak dan LPG ke Amerika Serikat? Ini Kata Bahlil soal Dampak Penutupan Selat Hormuz!

Militer AS mengakui bahwa situasi di Selat Hormuz sedang "ditangani", namun belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai strategi jangka panjang. Ini menimbulkan pertanyaan tentang seberapa besar efektivitas upaya tersebut dalam jangka panjang.

Dampak Jangka Panjang pada Pasar Energi Global

Konflik saat ini bukan hanya soal volatilitas jangka pendek. Banyak analis percaya bahwa gangguan pasokan akibat perang Iran telah memasuki fase struktural. Artinya, dampaknya bisa berlangsung dalam waktu lama, bukan hanya beberapa minggu.

Jika gangguan ini berlangsung terus-menerus, maka pasar minyak global akan mengalami kenaikan harga yang lebih tinggi untuk mencapai keseimbangan baru. Semakin lama gangguan berlangsung, semakin besar pula risiko kenaikan harga yang lebih ekstrem.

Kesimpulan

Lonjakan harga minyak Brent ke USD103,69 dan WTI ke USD99,31 per barel adalah cerminan dari ketidakpastian geopolitik yang terus berkembang. Meskipun berbagai langkah telah diambil, stabilitas pasar masih belum pulih sepenuhnya. Investor dan produsen minyak kini harus siap menghadapi volatilitas yang tinggi dalam beberapa bulan ke depan.

Disclaimer: Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi geopolitik dan kebijakan pemerintah terkait.

Nurkasmini Nikmawati
Reporter at anakhiv.id

Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.