Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) kembali melemah pada perdagangan pagi ini. Sejak dibuka, mata uang Garuda tercatat turun 13 poin menjadi Rp16.899 per USD berdasarkan data Bloomberg per pukul 09.39 WIB. Meski fluktuasi terjadi sepanjang sesi pagi, analis memperkirakan rupiah akan tetap berada dalam tekanan hingga akhir perdagangan.
Penurunan ini terjadi di tengah situasi ketidakpastian global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pasar energi dunia terguncang akibat Iran yang mulai memblokir Selat Hormuz sebagai respons atas serangan militer AS dan Israel. Langkah ini memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi ke Asia, yang berpotensi memicu kenaikan harga minyak dan dampak inflasi global.
Dinamika Geopolitik dan Dampaknya pada Rupiah
Iran menyatakan akan terus menyerang kapal yang melintas di Selat Hormuz sampai permusuhan terhadap negaranya dihentikan. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa perang hampir berakhir, meski pernyataan ini ditolak oleh Teheran. Ketegangan ini membuat investor global lebih berhati-hati, termasuk terhadap mata uang-mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Selain itu, data ekonomi dari Amerika Serikat juga menjadi sorotan pasar. Indeks Harga Konsumen (CPI) untuk bulan Februari akan dirilis dalam waktu dekat. Data ini menjadi indikator penting untuk mengukur laju inflasi dan memprediksi kebijakan suku bunga oleh The Fed. Inflasi CPI inti diperkirakan tetap di level 2,5 persen, sementara CPI inti diharapkan stabil di 2,4 persen.
Data penggajian Februari yang lebih rendah dari ekspektasi sebelumnya juga memperkuat kekhawatiran bahwa ekonomi AS sedang melambat. Hal ini bisa berimbas pada kekuatan dolar, yang pada gilirannya memengaruhi pergerakan rupiah.
Sentimen Pasar dan Penilaian Lembaga Internasional
Sentimen terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh penilaian lembaga pemeringkat internasional. Moody’s dan Fitch telah menurunkan outlook Indonesia dari stabil ke negatif. Hanya S&P yang masih mempertahankan outlook stabil. Penurunan outlook ini mencerminkan kekhawatiran terhadap kredibilitas fiskal pemerintah.
Kinerja penerimaan pajak menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi penilaian ini. Pada tahun anggaran 2025, setoran pajak hanya mencapai Rp1.917,6 triliun atau sekitar 87,6 persen dari target. Padahal, defisit anggaran negara terus melebar hingga mencapai 2,92 persen dari PDB, melebihi target UU APBN yang hanya 2,53 persen.
Berikut rincian kinerja penerimaan negara:
| Komponen | Target 2025 | Realisasi 2025 | Capaian (%) |
|---|---|---|---|
| Penerimaan Negara Bukan Pajak | Rp1.318,9 triliun | Rp1.079,5 triliun | 81,8% |
| Penerimaan Perpajakan | Rp2.189,6 triliun | Rp1.917,6 triliun | 87,6% |
| Total Target | Rp3.508,5 triliun | Rp2.997,1 triliun | 85,4% |
Penurunan capaian ini memperlebar defisit dan membatasi ruang fiskal pemerintah untuk melakukan stimulus ekonomi. Bank Dunia juga mencatat bahwa dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, Indonesia belum mampu meningkatkan rasio penerimaan pajak secara signifikan. Pada 2025, rasio pajak tercatat hanya 9,31 persen dari PDB, jauh di bawah rata-rata negara G20.
Penyebab Rendahnya Rasio Pajak
-
Rendahnya kepatuhan wajib pajak
Banyak wajib pajak belum memenuhi kewajiban pelaporan dan pembayaran pajak secara tepat waktu dan akurat. Ini terutama terjadi di kalangan pelaku usaha kecil dan menengah. -
Struktur perpajakan yang kompleks
Sistem perpajakan yang terlalu rumit seringkali membingungkan wajib pajak, terutama yang baru memulai usaha. -
Kurangnya edukasi dan sosialisasi
Banyak masyarakat belum memahami pentingnya pajak sebagai kontribusi terhadap pembangunan negara.
Dampak pada Investasi dan Daya Saing Ekonomi
Rendahnya penerimaan negara dan melebarnya defisit anggaran memengaruhi daya tarik investasi Indonesia di mata investor asing. Lembaga pemeringkat khawatir bahwa defisit yang terus melebar akan memicu tekanan pada mata uang dan meningkatkan risiko utang pemerintah.
Investor cenderung menghindari negara dengan defisit besar dan kinerja fiskal yang tidak kredibel. Hal ini bisa berdampak pada arus modal asing yang masuk ke pasar keuangan Indonesia, termasuk pasar saham dan obligasi.
Langkah-Langkah yang Dapat Ditempuh
-
Meningkatkan kepatuhan perpajakan melalui digitalisasi
Pemanfaatan teknologi untuk mempermudah pelaporan dan pembayaran pajak dapat meningkatkan partisipasi masyarakat. -
Evaluasi ulang struktur perpajakan
Menyederhanakan sistem perpajakan agar lebih mudah dipahami oleh wajib pajak. -
Penguatan pengawasan dan penegakan hukum
Memberikan sanksi tegas terhadap pelanggaran perpajakan agar menimbulkan efek jera. -
Sosialisasi dan edukasi pajak secara masif
Mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kontribusi pajak untuk pembangunan negara.
Pergerakan Rupiah Hari Ini
Perdagangan pagi ini menunjukkan bahwa rupiah berada dalam tekanan. Meskipun sempat menguat sesaat, rupiah akhirnya kembali melemah dan ditutup di kisaran Rp16.880 hingga Rp16.910 per USD. Fluktuasi ini dipicu oleh sentimen global yang tidak menentu serta kondisi domestik yang masih menunjukkan ketidakseimbangan fiskal.
Kesimpulan
Pelemahan rupiah pagi ini mencerminkan kombinasi faktor eksternal dan internal. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan data ekonomi AS yang tidak sesuai ekspektasi memicu sentimen negatif di pasar keuangan global. Di sisi domestik, kinerja fiskal yang kurang memuaskan memicu penurunan outlook dari lembaga pemeringkat internasional.
Pemerintah perlu mengambil langkah strategis untuk memperbaiki kredibilitas fiskal, terutama dalam hal penerimaan perpajakan. Tanpa langkah nyata, tekanan terhadap rupiah bisa terus berlanjut.
Disclaimer: Data dan kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi global dan kebijakan pemerintah setempat.
Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.












