Multifinance

Mengapa IHSG Anjlok Saat Pembukaan Pekan 9 Maret 2026? Simak Faktor yang Bikin Investor Panik!

Ryando Putra Jameni
×

Mengapa IHSG Anjlok Saat Pembukaan Pekan 9 Maret 2026? Simak Faktor yang Bikin Investor Panik!

Sebarkan artikel ini
Mengapa IHSG Anjlok Saat Pembukaan Pekan 9 Maret 2026? Simak Faktor yang Bikin Investor Panik!

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan performa negatif di awal pekan perdagangan, Senin 9 Maret 2026. Sejak dibuka, indeks langsung tertekan dan bergerak di zona merah. Tekanan jual yang kuat membuat sebagian besar saham mengalami penurunan, meski sejumlah kecil emiten masih mampu mencatatkan kenaikan.

Perdagangan hari itu mencatat volume yang cukup tinggi. Sekitar 3,64 miliar saham berpindah tangan dengan nilai transaksi mencapai Rp1,61 triliun. Dari total saham yang aktif diperdagangkan, 526 saham mengalami penurunan, 45 saham naik, dan 110 saham bergerak datar. IHSG sendiri terkoreksi 211,37 poin atau sekitar 2,79 persen, menutup di level 7.374,31.

Penyebab Penurunan IHSG di Awal Pekan

Penurunan IHSG tidak terjadi begitu saja. Ada sejumlah faktor, baik dari dalam maupun luar negeri, yang turut memengaruhi sentimen pasar. Investor pun mulai waspada dan memperhatikan berbagai indikator eksternal yang bisa memicu volatilitas lebih lanjut.

1. Ketegangan Geopolitik di Timur Tengah

Salah satu pemicu utama pelemahan IHSG adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat kembali memanas. Situasi ini berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global, terutama minyak mentah.

Risiko yang muncul antara lain:

  • Lonjakan harga energi dunia
  • Tekanan pada rantai pasok global
  • Peningkatan volatilitas pasar modal internasional

Investor cenderung menghindari risiko (risk-off) saat situasi geopolitik memburuk. Hal ini menyebabkan arus modal asing keluar dari pasar berkembang seperti Indonesia.

2. Sentimen Negatif dari Pasar Global

Selain faktor regional, tekanan juga datang dari pasar global. Bursa saham di Amerika Serikat dan Eropa menunjukkan performa melemah menjelang akhir pekan lalu. Indeks Dow Jones dan S&P 500 juga mencatat koreksi yang signifikan.

Beberapa alasan utama antara lain:

  • Kenaikan suku bunga obligasi AS
  • Data inflasi global yang lebih tinggi dari ekspektasi
  • Kekhawatiran terhadap resesi di sejumlah negara maju

Kondisi ini berdampak langsung pada investor lokal yang mengamati pergerakan pasar global sebagai acuan.

3. Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi Domestik

Di dalam negeri, pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 belum menunjukkan angka yang mengejutkan. Meski tetap positif, laju pertumbuhan tercatat lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Data ini memicu spekulasi bahwa momentum pemulihan ekonomi belum sepenuhnya pulih.

Beberapa indikator yang menjadi sorotan:

  • Konsumsi rumah tangga yang melambat
  • Investasi sektor swasta yang belum optimal
  • Ekspor yang terbatas akibat permintaan global yang lesu

Investor mulai mempertimbangkan kembali alokasi portofolio mereka, terutama di sektor yang sensitif terhadap siklus ekonomi.

Saham-Saham yang Masih Menguat

Meski secara umum IHSG melemah, beberapa saham tetap berhasil mencatatkan kenaikan. Ini menunjukkan bahwa peluang investasi tetap ada, terutama bagi investor yang selektif dan memahami fundamental emiten.

Berikut adalah sejumlah saham yang menguat pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026:

No Nama Emiten Kenaikan (%) Harga Penutupan (Rp)
1 PT Indo Oils Perkasa Tbk 17,76% 252
2 PT Krida Jaringan Nusantara Tbk 14,58% 165
3 PT Koka Indonesia Tbk 12,31% 292
4 PT Champ Resto Indonesia Tbk 11,23% 505
5 PT Sigma Energy Compressindo Tbk 7,26% 148

Saham-saham ini menunjukkan bahwa meskipun secara makro pasar sedang tertekan, ada sektor atau emiten tertentu yang masih menarik minat investor.

Strategi Investasi di Tengah Volatilitas

Bagi investor, kondisi seperti ini bukan berarti waktu yang salah untuk masuk pasar. Justru, ini bisa menjadi peluang untuk membeli saham-saham undervalued yang memiliki prospek jangka panjang.

1. Fokus pada Fundamental Emiten

Investor disarankan untuk tidak terjebak pada fluktuasi jangka pendek. Melihat kinerja keuangan, prospek bisnis, dan posisi kompetitif emiten jauh lebih penting daripada pergerakan harian indeks.

2. Diversifikasi Portofolio

Menyebar risiko ke berbagai sektor bisa menjadi langkah cerdas. Jangan terlalu fokus pada satu sektor yang rentan terhadap sentimen makro ekonomi.

3. Gunakan Pendekatan Dollar Cost Averaging (DCA)

Metode ini memungkinkan investor untuk membeli saham secara bertahap dalam periode tertentu. Dengan begitu, risiko terkena timing market bisa diminimalkan.

Kesimpulan

Pergerakan IHSG yang negatif di awal pekan 9 Maret 2026 mencerminkan kombinasi tekanan dari faktor global dan domestik. Ketegangan geopolitik, sentimen pasar internasional, dan perlambatan ekonomi lokal menjadi pemicu utama pelemahan indeks.

Namun, bukan berarti semua saham ikut terpuruk. Sejumlah emiten masih mampu mencatatkan kenaikan, menunjukkan bahwa peluang tetap ada bagi investor yang cermat.

Investor bijak akan melihat situasi ini sebagai bagian dari siklus pasar. Yang penting adalah tetap waspada, memahami risiko, dan tidak terjebak pada keputusan emosional.

Disclaimer: Data dan kondisi pasar bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu. Artikel ini disusun berdasarkan informasi yang tersedia hingga tanggal publikasi dan tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi investasi.

Ryando Putra Jameni
Reporter at anakhiv.id

Ryando Putra Jameni merupakan jurnalis dan editor konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Ryando berkomitmen menghadirkan informasi keuangan yang akurat, terpercaya, dan bermanfaat bagi masyarakat.