Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) dibuka menguat pada perdagangan awal pekan ini. Penguatan ini terjadi seiring dengan melemahnya dolar AS akibat sentimen pasar yang terusik oleh perkembangan kebijakan ekonomi mantan Presiden Donald Trump.
Berdasarkan data Bloomberg, Senin (23/2/2026), rupiah berada di level Rp16.853 per USD. Ini menandakan adanya penguatan sebesar 35 poin atau sekitar 0,21 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di angka Rp16.894 per USD. Sementara itu, data dari Yahoo Finance mencatat rupiah berada di kisaran Rp16.880 per USD, menunjukkan pergerakan yang relatif datar sejak pagi tadi.
Dinamika Rupiah dan Sentimen Pasar Global
Pergerakan rupiah hari ini mencerminkan respons pasar terhadap berbagai isu global, terutama yang berkaitan dengan kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Meski dibuka menguat, prospek jangka pendek rupiah masih penuh ketidakpastian.
1. Prediksi Pergerakan Rupiah Hari Ini
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah sepanjang hari. Diperkirakan, rupiah akan berada di kisaran Rp16.880 hingga Rp16.910 per USD.
2. Faktor Pendorong Fluktuasi Nilai Tukar
Sentimen pasar saat ini sangat rentan terhadap perkembangan politik dan ekonomi global. Salah satu faktor utama yang memengaruhi adalah kebijakan perdagangan mantan Presiden AS, Donald Trump.
3. Kebijakan Trump dan Dampaknya pada Dolar AS
Trump kembali menjadi sorotan setelah mengkritik Mahkamah Agung AS terkait pembatalan kekuasaan daruratnya untuk memberlakukan tarif resiprokal. Ia menyatakan rencana menaikkan tarif global antara 10 hingga 15 persen sebagai langkah proteksionis.
Langkah ini memicu kekhawatiran baru di kalangan investor global. Ketidakpastian terkait kebijakan perdagangan AS berpotensi melemahkan dolar, yang pada gilirannya bisa memberikan tekanan pada mata uang regional seperti rupiah.
Perbandingan Data Kurs Rupiah
Berikut adalah perbandingan data kurs rupiah terhadap USD berdasarkan dua sumber berbeda:
| Sumber Data | Kurs Rupiah per USD | Perubahan (Poin) | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| Bloomberg | Rp16.853 | -35 | -0,21% |
| Yahoo Finance | Rp16.880 | 0 | 0% |
Catatan: Data bersifat real-time dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pasar.
Rangkuman Pergerakan Rupiah Minggu Lalu
Sebelum menguat pada pembukaan perdagangan hari ini, rupiah sempat mengalami tekanan sepanjang akhir pekan lalu. Pelemahan terjadi akibat penguatan dolar AS yang dipicu oleh ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Namun, dengan munculnya ketidakpastian politik di AS, investor mulai mengalihkan posisi dananya ke aset yang dianggap lebih aman. Hal ini memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat di awal pekan.
Faktor Domestik yang Mendukung Penguatan Rupiah
Selain faktor eksternal, ada beberapa kondisi domestik yang turut mendukung penguatan rupiah:
- Stabilitas makroekonomi Indonesia tetap terjaga.
- Neraca perdagangan surplus memberikan sentimen positif.
- BI (Bank Indonesia) aktif menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar.
Meski demikian, potensi tekanan terhadap rupiah masih mungkin terjadi jika sentimen global kembali memburuk.
Proyeksi Jangka Pendek Rupiah
Pergerakan rupiah ke depannya akan sangat bergantung pada dinamika politik dan ekonomi global. Investor akan terus memantau kebijakan perdagangan AS serta langkah-langkah kebijakan moneter dari The Fed.
1. Pengaruh Kebijakan Tarif Global
Jika Trump benar-benar menaikkan tarif global, ini akan memicu gejolak di pasar keuangan internasional. Dolar AS bisa kembali melemah, memberikan peluang bagi rupiah untuk menguat lebih lanjut.
2. Peran Bank Sentral
Bank Indonesia akan terus memantau perkembangan ini. Intervensi pasar dan kebijakan suku bunga menjadi instrumen penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
3. Sentimen Investor Global
Investor asing cenderung menghindari risiko saat ketidakpastian tinggi. Jika dolar terus tertekan, aliran modal asing ke pasar emerging market seperti Indonesia bisa meningkat.
Risiko yang Perlu Diwaspadai
Meski saat ini rupiah menguat, ada beberapa risiko yang tetap perlu diwaspadai:
- Lonjakan inflasi global yang dapat memicu kenaikan suku bunga AS.
- Ketegangan geopolitik yang berpotensi mengganggu rantai pasok.
- Perubahan kebijakan moneter BI yang tidak terduga.
Kesimpulan
Penguatan rupiah di level Rp16.853 per USD menunjukkan bahwa mata uang Tanah Air masih memiliki daya tahan di tengah ketegangan global. Namun, fluktuasi nilai tukar diprediksi akan terus terjadi seiring dengan perkembangan kebijakan eksternal, khususnya dari Amerika Serikat.
Investor dan pelaku pasar disarankan untuk terus memantau perkembangan data ekonomi, baik domestik maupun global, agar dapat mengambil keputusan yang tepat.
Disclaimer: Data kurs dan prediksi di atas bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi pasar. Informasi ini hanya sebagai referensi dan bukan merupakan saran investasi finansial.
Popy Lestary merupakan jurnalis keuangan dan kreator konten yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya mencakup perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Popy berkomitmen menyajikan informasi yang akurat, relevan, dan bermanfaat bagi pembaca dari semua kalangan.












