Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok hingga 7,89 persen sepanjang perdagangan pekan pertama Maret 2026. Angka itu menunjukkan koreksi cukup dalam yang terjadi di pasar modal Tanah Air. Meski mayoritas saham terjungkal, ada beberapa emiten yang justru mampu melonjak tajam dan masuk daftar top gainers.
Penurunan IHSG ke level 7.585,68 mencerminkan pelemahan sentimen investor yang dipicu berbagai faktor makroekonomi. Kapitalisasi pasar pun menyusut hingga mencapai Rp13.627 triliun, turun 7,85 persen dari pekan sebelumnya. Namun, di balik situasi yang terlihat suram, sejumlah saham berhasil mencuri perhatian dengan performa impresif.
Sektor-Saham yang Melemah
Koreksi IHSG tidak terjadi secara merata, tetapi hampir semua sektor saham ikut terdampak. Tekanan terbesar dirasakan oleh sektor consumer cyclicals yang anjlok hingga 14,73 persen. Diikuti oleh transportasi dan logistik yang turun 12,05 persen.
Sektor-sektor lain yang ikut melemah antara lain basic materials, industri, infrastruktur, hingga teknologi. Bahkan sektor-sektor defensif seperti kesehatan dan keuangan pun tak mampu bertahan sempurna.
Berikut rincian pelemahan sektor saham di BEI selama sepekan:
- Consumer cyclicals: -14,73%
- Transportasi dan logistik: -12,05%
- Basic materials: -11,46%
- Industri: -11,09%
- Infrastruktur: -9,32%
- Properti dan real estate: -8,97%
- Teknologi: -8,27%
- Consumer non-cyclicals: -6,82%
- Keuangan: -5,46%
- Energi: -5,02%
- Kesehatan: -4,33%
10 Saham Top Gainers di Tengah Koreksi
Meski pasar sedang dalam tekanan, beberapa saham justru menunjukkan performa luar biasa. Saham-saham ini berhasil mencatat kenaikan harga yang signifikan dan masuk daftar top gainers selama sepekan. Kenaikan ini bisa menjadi peluang maupun peringatan bagi investor yang memperhatikan gerak-gerik pasar.
1. PT Ifishdeco Tbk (IFSH)
Saham IFSH menjadi yang teratas dalam daftar top gainers. Harganya melonjak 81,56 persen dari Rp1.790 menjadi Rp3.250 per saham. Lonjakan ini cukup mencolok di tengah situasi pasar yang mayoritas negatif.
2. PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA)
ESSA mencatat kenaikan 19,38 persen. Saham yang sebelumnya berada di level Rp645 per saham, naik menjadi Rp770. Kenaikan ini menempatkan ESSA di posisi kedua daftar top gainers.
3. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG)
ITMG menguat 17,98 persen. Harga sahamnya naik dari Rp15.600 menjadi Rp18.400. Saham tambang ini menunjukkan ketahanan yang baik meski sektor energi secara umum sedang tertekan.
4. PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO)
ADRO naik 16,27 persen. Saham energi ini bergerak dari Rp1.430 ke Rp1.660. Kenaikan ini terjadi meski sektor energi secara umum mengalami koreksi.
5. PT Barito Pacific Tbk (BRPT)
BRPT mencatat kenaikan 15,63 persen. Harga sahamnya naik dari Rp960 menjadi Rp1.110. Saham holding diversifikasi ini berhasil menarik minat investor meski pasar sedang lesu.
6. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI)
AALI naik 14,81 persen. Saham perkebunan kelapa sawit ini bergerak dari Rp2.770 menjadi Rp3.180. Kenaikan ini menunjukkan bahwa sektor perkebunan masih punya daya tarik tersendiri.
7. PT Bumi Resources Tbk (BUMI)
BUMI menguat 14,29 persen. Saham tambang ini naik dari Rp140 menjadi Rp160. Meski sektor industrinya melemah, BUMI justru mampu membukukan kenaikan yang solid.
8. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN)
CPIN naik 13,79 persen. Saham agribisnis ini bergerak dari Rp2.900 menjadi Rp3.300. Kenaikan ini menunjukkan bahwa sektor konsumsi non-siklikal masih memiliki daya tahan.
9. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF)
KLBF menguat 13,16 persen. Saham farmasi ini naik dari Rp1.520 menjadi Rp1.720. Di tengah koreksi sektor kesehatan, KLBF justru menunjukkan performa yang positif.
10. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR)
UNVR naik 12,82 persen. Saham konsumer ini bergerak dari Rp45.200 menjadi Rp51.000. Saham blue-chip ini tetap diminati investor meski pasar sedang dalam tekanan.
Apa yang Membuat Saham Ini Naik?
Lonjakan harga pada saham-saham di atas tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor yang mendorong kenaikan harga, meski secara umum pasar sedang melemah. Faktor-faktor ini bisa berupa rilis kinerja yang baik, rencana emiten, hingga sentimen investor yang masih percaya pada prospek jangka panjang.
Perlu dicatat bahwa kenaikan harga yang tajam dalam kondisi pasar yang melemah bisa jadi merupakan reaksi terhadap kondisi tertentu. Investor disarankan untuk tidak langsung mengambil keputusan beli hanya karena saham masuk daftar top gainers.
Disclaimer
Data yang disajikan dalam artikel ini bersifat terbuka dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada dinamika pasar. Saham yang masuk daftar top gainers tidak serta merta menjadi rekomendasi investasi. Sebelum membeli saham, sebaiknya lakukan riset mandiri dan pertimbangkan kondisi keuangan serta risiko investasi yang Anda tanggung.
Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.












