Ilustrasi RDG Bank Indonesia. Foto: Tangkapan layar YouTube BI.
Bank Indonesia (BI) diperkirakan bakal kembali mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Maret 2026. Keputusan ini diambil seiring dengan tekanan eksternal yang masih cukup signifikan, terutama dari ketegangan geopolitik global dan ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed.
Banyak ekonom sepakat bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk menurunkan suku bunga. Pasalnya, kondisi eksternal yang belum stabil justru bisa memicu pelemahan rupiah dan menambah tekanan pada nilai tukar. Stabilitas BI-Rate dianggap sebagai langkah strategis untuk menjaga daya tarik aset rupiah di mata investor.
Tekanan Eksternal yang Masih Mengganjal
- Konflik Geopolitik Global
Salah satu faktor utama yang mendorong BI untuk bertindak hati-hati adalah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Konflik ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak global, yang pada gilirannya bisa memperlebar defisit neraca perdagangan dan menekan nilai tukar rupiah.
- Outlook Sovereign Rating Indonesia
Investor juga masih menunggu kejelasan terkait penilaian kredit negara (sovereign rating) Indonesia ke depan. Ketidakpastian ini membuat BI harus tetap menjaga kredibilitas kebijakan agar tidak mengundang volatilitas lebih lanjut.
- Arus Modal Keluar
Data terbaru menunjukkan bahwa sejak meletusnya konflik AS-Iran, Indonesia mencatat arus keluar modal mencapai USD0,75 miliar. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa investor masih was-was dengan kondisi global, dan BI perlu menjaga kebijakan moneter tetap ketat agar tidak semakin mengguncang pasar.
Imbal Hasil Obligasi Naik, Apa Artinya?
Kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah menjadi cerminan dari meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan. Dalam kurun waktu satu bulan saja, yield obligasi tenor 1 tahun naik dari 4,82 persen menjadi 5,65 persen, sementara tenor 10 tahun naik dari 6,39 persen menjadi 6,75 persen.
Tabel Kenaikan Imbal Hasil Obligasi Pemerintah (Periode 18 Februari – 13 Maret 2026)
| Tenor Obligasi | Yield Awal (18 Feb) | Yield Akhir (13 Mar) | Kenaikan |
|---|---|---|---|
| 1 Tahun | 4,82% | 5,65% | 83 bps |
| 10 Tahun | 6,39% | 6,75% | 36 bps |
Kenaikan yield ini menunjukkan bahwa investor mulai meminta imbal hasil lebih tinggi sebagai kompensasi risiko. Ini juga mencerminkan ekspektasi bahwa BI tidak akan mudah menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.
Prospek The Fed dan Dampaknya ke Kebijakan BI
- Revisi Ekspektasi Fed Rate Cut
Sebelumnya, pasar sempat optimistis bahwa The Fed akan melakukan dua kali pemotongan suku bunga pada 2026. Namun, dengan kondisi global yang semakin tidak menentu, ekspektasi itu kini hanya menyisakan satu kali kemungkinan rate cut, yang diperkirakan terjadi pada Desember 2026.
- Keterbatasan Ruang Manuver BI
Jika The Fed hanya melakukan satu kali pemotongan suku bunga, maka BI juga diprediksi hanya akan melakukan satu kali rate cut sepanjang tahun. Ini menunjukkan bahwa ruang gerak kebijakan moneter BI masih sangat terbatas, terutama dalam menghadapi tekanan eksternal.
- Skenario Hawkish Masih Terbuka
Jika ketegangan geopolitik semakin memanas dan harga minyak mentah dunia bertahan di atas USD100 per barel, maka BI bahkan bisa mengambil langkah kontraktif (hawkish) dengan menaikkan suku bunga. Ini sebagai langkah antisipasi terhadap potensi inflasi dan pelemahan rupiah yang lebih dalam.
Fundamental Domestik Masih Jadi Sandaran
Meski tekanan eksternal cukup besar, fundamental ekonomi domestik Indonesia masih dianggap relatif stabil. Inflasi terkendali, APBN tidak mengalami defisit besar, dan kredibilitas kebijakan moneter BI tetap terjaga.
Namun, agar rupiah bisa menguat dan investor asing kembali masuk, BI perlu memastikan bahwa stabilitas ini tidak hanya bersifat jangka pendek. Kebijakan fiskal yang disiplin dan transparansi pengelolaan anggaran menjadi poin penting agar investor tetap percaya.
Arus Modal Asing dan Sentimen Pasar
- Arus Keluar Modal
Sejak awal Maret 2026, tercatat arus keluar modal sebesar USD0,63 miliar. Angka ini memang belum terlalu besar, tapi jika tren ini berlanjut, BI harus siap dengan langkah antisipatif agar tidak sampai mengganggu stabilitas makroekonomi.
- Sentimen Investor
Investor asing saat ini sedang menahan diri. Mereka menunggu kejelasan dari beberapa variabel global sebelum kembali menanamkan modalnya. BI perlu terus menjaga komunikasi yang baik agar tidak terjadi keresahan di pasar.
- Potensi Penguatan Rupiah
Jika kondisi global membaik dan harga minyak turun, maka rupiah punya peluang untuk menguat. Namun, ini bukan hal yang bisa terjadi dalam semalam. Butuh waktu dan kebijakan yang konsisten dari BI untuk membangun kembali kepercayaan pasar.
Kesimpulan
Bank Indonesia tampaknya masih akan memilih untuk bertahan di zona aman dengan mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen. Tekanan eksternal yang belum reda, ditambah dengan ketidakpastian arah kebijakan The Fed, membuat BI harus ekstra hati-hati dalam setiap langkahnya.
Meski begitu, fundamental ekonomi dalam negeri masih menjadi pondasi yang kuat. Jika BI terus menjaga kredibilitas dan stabilitas kebijakan, maka peluang penguatan rupiah dan kembalinya arus modal asing masih terbuka lebar.
Disclaimer: Data dan prediksi dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan kondisi ekonomi global dan domestik. Keputusan kebijakan moneter BI akan selalu disesuaikan dengan situasi terkini.
Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.












