Multifinance

Menguatnya Dolar AS Dipicu Harapan Damai Antara Amerika dan Iran!

Nurkasmini Nikmawati
×

Menguatnya Dolar AS Dipicu Harapan Damai Antara Amerika dan Iran!

Sebarkan artikel ini
Menguatnya Dolar AS Dipicu Harapan Damai Antara Amerika dan Iran!

Dolar AS menguat pada Kamis, 2 April 2026, seiring dengan meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven. Penguatan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan memperluas operasi militer terhadap Iran dalam beberapa minggu ke depan. Pernyataan tersebut memicu sentimen waspada di kalangan investor global.

Indeks Dolar naik 0,4 persen mencapai level 100,03. Lonjakan ini dipicu oleh ketidakpastian geopolitik yang kembali muncul di kawasan Timur Tengah. Investor cenderung mencari aset yang dianggap aman, dan dolar menjadi pilihan utama di tengah situasi seperti ini.

Retorika Trump Picu Sentimen Bearish terhadap Risiko

Pernyataan tegas dari Presiden Trump terhadap Iran mengubah arah pasar yang sebelumnya sempat tenang. Sejumlah pekan sebelumnya, investor menunjukkan optimisme karena adanya isyarat de-eskalasi antara AS dan Iran. Namun, semuanya berubah setelah pidato Trump yang menyebut rencana operasi militer lebih agresif.

“Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan,” ujar Trump. Ia juga menekankan bahwa Washington hampir mencapai tujuan utamanya dalam menghadapi Iran.

Sentimen pasar langsung bereaksi. Investor kembali memindahkan dana mereka dari aset berisiko ke instrumen yang lebih aman. Ini adalah pola yang umum terjadi ketika ketegangan geopolitik meningkat.

1. Penurunan Optimisme Pasar

Sebelum pernyataan Trump, investor sempat optimis. Pasar valuta asing mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa dolar akan melemah karena prospek de-eskalasi. Namun, semua berubah begitu cepat.

2. Reaksi Pasar terhadap Ketidakpastian Geopolitik

Setelah pernyataan Trump, dolar langsung menguat. Mata uang utama lainnya seperti euro dan poundsterling justru terpuruk. Ini menunjukkan bahwa ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor utama dalam pergerakan nilai tukar.

Baca Juga:  Mengapa BI Bertahan di Zona Nyaman Suku Bunga Meski Diguncang Gejolak Global?

3. Peran Selat Hormuz dalam Sentimen Pasar

Trump tidak memberikan penjelasan detail soal rencana pembukaan kembali Selat Hormuz. Padahal, jalur air ini menjadi salah satu titik kritis dalam perdagangan energi global. Seperlima minyak dan gas dunia melewati selat ini.

Iran sendiri mengumumkan rencana untuk memungut tarif dari kapal yang melewati Selat Hormuz. Langkah ini dianggap sebagai bentuk kontrol terhadap jalur strategis, dan tentu saja tidak disambut baik oleh AS.

4. Respons Iran dan Oman

Meski suasana tetap tegang, ada kabar dari televisi pemerintah Iran bahwa negara itu tengah menyusun protokol dengan Oman untuk memantau lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Ini bisa menjadi langkah awal menuju stabilitas, meski masih jauh dari kata sepakat.

Fokus Beralih ke Data Tenaga Kerja AS

Sementara itu, fokus pasar beralih ke data ekonomi domestik AS. Laporan penggajian non-pertanian untuk Maret 2026 akan dirilis pada Jumat. Data ini menjadi indikator penting untuk menilai kesehatan ekonomi AS dan bisa memengaruhi keputusan kebijakan moneter Federal Reserve.

1. Klaim Pengangguran Turun

Data Kamis menunjukkan klaim pengangguran awal turun lebih rendah dari estimasi. Ini menjadi sinyal positif bagi pasar tenaga kerja AS. Namun, angka ini harus dilihat secara menyeluruh dengan data lainnya.

2. Pemutusan Hubungan Kerja Naik

Sebelumnya, laporan dari Challenger, Gray & Christmas menyebutkan bahwa pemutusan hubungan kerja di AS naik 25 persen month-to-month pada Februari. Ini menunjukkan adanya tekanan di sektor tenaga kerja meski klaim pengangguran turun.

3. Laporan JOLTS Menunjukkan Pelemahan

Laporan JOLTS yang dirilis awal pekan ini menunjukkan bahwa lowongan pekerjaan turun pada Februari. Tingkat perekrutan juga mencatat level terendah sejak April 2020. Ini bisa menjadi tanda perlambatan pasar tenaga kerja.

Baca Juga:  Dampak Ketegangan AS-Iran pada Anjloknya Harga Kontrak Berjangka Wall Street!

4. Pandangan Powell soal Inflasi dan Kebijakan Moneter

Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyatakan bahwa bank sentral akan tetap mengabaikan guncangan pasokan minyak dalam menilai kebijakan moneter. Ia juga menekankan bahwa ekspektasi inflasi jangka panjang masih terkendali.

Pergerakan Mata Uang Utama

Di tengah penguatan dolar, sejumlah mata uang utama mengalami tekanan. Euro terhadap dolar turun 0,4 persen, meski kemudian sedikit pulih ke level 1,1539. Sementara itu, poundsterling mencatat penurunan lebih dalam hingga 0,6 persen.

1. Euro (EUR/USD)

Euro sempat tertekan karena penguatan dolar. Namun, sentimen pasar masih fluktuatif. Investor menunggu data ekonomi Eropa yang akan dirilis pekan depan untuk melihat apakah ada tanda pemulihan.

2. Poundsterling (GBP/USD)

Poundsterling mengalami tekanan lebih besar karena ketergantungan Inggris pada impor energi. Survei Bank of England menunjukkan bahwa perusahaan memperkirakan kenaikan harga sebesar 3,7 persen pada tahun depan.

3. Yen Jepang (USD/JPY)

Pasangan USD/JPY tetap stabil di kisaran 159,57. Yen tetap menjadi pilihan investor saat ketidakpastian meningkat, meski kali ini dolar yang lebih dominan.

4. Dolar Australia (AUD/USD)

Dolar Australia berhasil membalikkan penurunan sebelumnya. Ini berkat data surplus perdagangan yang melebar menjadi 5,69 miliar dolar Australia pada Februari. Ekspor naik 4,9 persen dan impor turun 3,2 persen.

Disclaimer

Data dan informasi dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik dan ekonomi global. Keputusan investasi sebaiknya tidak hanya mengandalkan informasi dari satu sumber saja, tetapi juga mempertimbangkan faktor eksternal lainnya.