Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan penjelasan tegas terkait rencana efisiensi anggaran yang tengah disusun pemerintah. Menurutnya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) tidak akan terkena dampak dari kebijakan ini. Kedua program tersebut tetap akan berjalan sesuai rencana tanpa ada pengurangan anggaran.
Langkah efisiensi anggaran saat ini merupakan bagian dari upaya menjaga defisit APBN tahun 2026 tetap di bawah tiga persen. Namun, Airlangga menegaskan bahwa program unggulan seperti MBG dan KDMP tidak akan menjadi sasaran pemangkasan. Ini karena program-program tersebut dinilai memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional dan kesejahteraan masyarakat.
Evaluasi Anggaran dan Prioritas Program
Pemerintah tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pos belanja yang berpotensi memberikan ruang fiskal tambahan. Fokus utama adalah pada item-item yang tidak termasuk dalam program strategis nasional. Evaluasi ini dilakukan secara cermat agar tidak mengganggu keberlanjutan program yang sudah berjalan.
Langkah ini juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan fiskal. Dalam rapat koordinasi terbatas yang digelar, sejumlah kementerian dan lembaga terlibat untuk membahas tindak lanjut dari rencana efisiensi tersebut.
1. Identifikasi Program Unggulan
Program unggulan seperti MBG dan KDMP dipastikan tidak akan terkena efisiensi karena dinilai memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat. MBG bertujuan meningkatkan gizi anak-anak di daerah tertinggal, sedangkan KDMP mendukung penguatan ekonomi desa melalui koperasi.
2. Peninjauan Anggaran Biaya Tambahan (ABT)
Fokus efisiensi akan diarahkan pada Anggaran Biaya Tambahan (ABT) yang selama ini dianggap membuat pengeluaran membengkak. ABT di setiap kementerian dan lembaga akan dievaluasi untuk mencari potensi penghematan.
3. Penyusunan Rencana Efisiensi
Kementerian Keuangan bersama instansi terkait akan menyusun rencana efisiensi dalam waktu satu minggu ke depan. Rencana ini akan menjadi panduan awal bagi K/L dalam menyesuaikan anggaran mereka.
Perbandingan Efisiensi Anggaran 2025 dan 2026
Perbedaan signifikan terlihat antara efisiensi anggaran yang dilakukan di awal 2025 dan rencana efisiensi tahun 2026. Pada tahun 2025, efisiensi dilakukan melalui Inpres dan berdampak cukup luas. Namun, untuk tahun 2026, pendekatan yang diambil lebih selektif agar tidak mengganggu program prioritas.
| Aspek | Efisiensi 2025 | Efisiensi 2026 |
|---|---|---|
| Dasar Kebijakan | Inpres 1/2025 | Evaluasi internal K/L |
| Sasaran | Seluruh anggaran | Hanya pos belanja non-prioritas |
| Dampak pada Program Unggulan | Terkena dampak | Tidak terdampak |
| Keterlibatan Presiden | Langsung menetapkan kebijakan | Menunggu rekomendasi teknis |
Penjelasan Menteri Keuangan
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menambahkan bahwa efisiensi kali ini tidak memerlukan instruksi presiden seperti sebelumnya. Langkah-langkah yang diambil akan lebih fleksibel dan responsif terhadap kondisi fiskal saat ini. Ini menunjukkan bahwa pemerintah ingin menjaga keberlanjutan program penting sambil tetap menjalankan prinsip efisiensi.
Purbaya juga menyebut bahwa ABT menjadi fokus utama karena sering kali digunakan tanpa pengawasan ketat. Dengan meninjau ulang ABT, diharapkan bisa ditemukan ruang untuk efisiensi tanpa mengorbankan program strategis.
Kebijakan yang Tetap Diprioritaskan
Meski ada rencana efisiensi, beberapa program tetap dipertahankan karena dinilai memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. MBG dan KDMP adalah dua contoh program yang tidak hanya berjalan efektif, tetapi juga memiliki dampak jangka panjang terhadap kesejahteraan dan penguatan ekonomi lokal.
Program seperti ini dianggap sebagai investasi jangka panjang yang tidak boleh terhenti karena pertimbangan anggaran jangka pendek. Oleh karena itu, pemerintah memilih untuk memangkas item-item yang kurang strategis terlebih dahulu.
Penyesuaian Anggaran Kementerian/Lembaga
Setiap kementerian dan lembaga diminta untuk menyiapkan rencana efisiensi dalam waktu satu minggu. Rencana ini akan menjadi dasar bagi Kementerian Keuangan dalam menyusun strategi penghematan secara keseluruhan. Penyesuaian ini tidak dimaksudkan untuk menghambat kinerja, melainkan untuk memastikan anggaran digunakan secara tepat sasaran.
Penghematan Jangka Pendek untuk Kestabilan Jangka Panjang
Langkah efisiensi ini juga dimaksudkan untuk memperkuat posisi fiskal pemerintah di tengah ketidakpastian ekonomi global. Dengan menghemat di pos-pos yang tidak kritis, pemerintah bisa mempertahankan program yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.
Kesimpulan
Rencana efisiensi anggaran tahun 2026 menunjukkan bahwa pemerintah semakin selektif dalam mengelola keuangan negara. Program unggulan seperti MBG dan KDMP tetap dipertahankan karena kontribusinya yang besar terhadap kesejahteraan dan penguatan ekonomi nasional. Fokus efisiensi akan diarahkan pada pos belanja yang kurang strategis, khususnya ABT di setiap kementerian dan lembaga.
Langkah ini diharapkan bisa menjaga defisit APBN tetap di bawah tiga persen tanpa mengorbankan program penting. Dengan begitu, stabilitas fiskal bisa terjaga sambil tetap memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat sesuai dengan data dan pernyataan resmi hingga Maret 2026. Rencana efisiensi dan kebijakan anggaran masih dalam tahap penyusunan dan dapat berubah tergantung situasi dan keputusan akhir dari pemerintah.
Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.












