Multifinance

Mengapa Program MBG Tetap Berjalan Meski Ada Efisiensi Anggaran? Temukan Penjelasannya di Sini!

Ryando Putra Jameni
×

Mengapa Program MBG Tetap Berjalan Meski Ada Efisiensi Anggaran? Temukan Penjelasannya di Sini!

Sebarkan artikel ini
Mengapa Program MBG Tetap Berjalan Meski Ada Efisiensi Anggaran? Temukan Penjelasannya di Sini!

Program Makan Bergizi Gratis alias MBG jadi sorotan hangat di tengah isu efisiensi anggaran pemerintah. Tapi tenang, kabar baiknya, program ini nggak bakal tergerus meskipun pemerintah sedang mengencangkan ikat pinggang. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, secara tegas menyatakan bahwa program prioritas seperti MBG dan Koperasi Merah Putih bakal tetap jalan. Alasannya? Keduanya bukan sekadar bantuan jangka pendek, tapi investasi masa depan.

Menurut Airlangga, pemotongan anggaran yang sedang digodok lebih ditujukan untuk menjaga defisit APBN tetap di bawah ambang batas 3 persen. Artinya, program yang dianggap strategis dan punya dampak jangka panjang bakal tetap diprioritaskan. MBG, misalnya, punya peran besar dalam meningkatkan kualitas gizi anak-anak di usia dini, yang secara langsung berdampak pada produktivitas bangsa di masa depan.

Kenapa Program MBG Tetap Aman dari Efisiensi Anggaran?

Nah, sebelum masuk ke detail teknisnya, mari kita kupas dulu kenapa program ini benar-benar dijaga. Karena nggak semua program bisa seberuntung ini. Ada beberapa alasan kuat yang bikin MBG tetap jalan meskipun kondisi fiskal sedang ketat.

1. MBG Termasuk Program Investasi Jangka Panjang

Pertama, MBG bukan sekadar bantuan sosial biasa. Ini adalah investasi untuk masa depan bangsa. Dengan memberikan makanan bergizi gratis kepada anak-anak di usia dini, program ini berkontribusi besar dalam mencegah stunting dan meningkatkan kualitas SDM nasional. Artinya, manfaatnya akan terasa puluhan tahun ke depan.

2. Program Ini Dianggap Strategis oleh Pemerintah

Kedua, MBG masuk dalam daftar program prioritas nasional. Artinya, ini bukan program biasa yang bisa diutak-atik sewaktu-waktu. Ini program yang sudah melalui proses perencanaan ketat dan memiliki target jelas dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

Baca Juga:  Mengapa BGN Pastikan Anggaran Bahan Baku MBG Tetap di Bawah Rp15 Ribu?

3. Efisiensi Fokus ke Kementerian/Lembaga Lain

Ketiga, kalau memang harus ada pemotongan anggaran, pemerintah lebih memilih fokus ke kementerian dan lembaga yang tidak langsung berdampak pada rakyat. Ini langkah antisipatif agar dampak pemotongan nggak terasa langsung ke masyarakat, apalagi ke anak-anak.

Penjelasan Teknis: Skema Efisiensi Anggaran 2026

Kalau bicara soal efisiensi anggaran, ini bukan soal memotong program secara sembarangan. Ada pertimbangan matang di baliknya. Pemerintah sedang menghadapi tantangan global yang cukup dinamis, termasuk ketidakpastian ekonomi dan konflik internasional yang bisa memengaruhi harga komoditas.

1. Defisit APBN Harus Tetap di Bawah 3 Persen

Salah satu target utama dari efisiensi ini adalah menjaga defisit APBN tetap dalam batas wajar. Kalau defisit melebihi 3 persen, bisa memicu tekanan pada nilai tukar rupiah dan memicu inflasi. Jadi, pemotongan anggaran ini lebih ke arah antisipasi daripada krisis.

2. Durasi Konflik Jadi Penentu Besaran Efisiensi

Kalau konflik global masih berlangsung dalam waktu pendek—katakanlah kurang dari enam bulan—maka dampaknya masih bisa ditampung dalam APBN tahun ini. Tapi kalau berlarut-larut, pemerintah bakal harus siapkan skenario darurat yang lebih dalam.

3. Pendapatan dari Komoditas Bisa Menutupi Defisit

Meskipun harga minyak dunia sedang naik, pemerintah juga punya aset kuat dari sektor komoditas lainnya seperti batu bara, nikel, dan kelapa sawit. Potensi pendapatan ini bisa membantu mengurangi tekanan terhadap APBN dan memberikan ruang gerak dalam pengelolaan anggaran.

Perbandingan Skema Anggaran Sebelum dan Sesudah Efisiensi

Untuk lebih jelasnya, berikut ini perbandingan skema anggaran sebelum dan sesudah efisiensi dilakukan, khususnya pada sektor yang terkait dengan program MBG.

Komponen Sebelum Efisiensi Sesudah Efisiensi
Anggaran K/L Umum Dipertahankan penuh Dipotong maksimal 10%
Program Prioritas (MBG, KMP) Tetap jalan Tetap jalan
Belanja Modal Dipertahankan Dipertahankan
Subsidi Umum Dipotong Dipotong lebih dalam
Anggaran Nonprioritas Dipotong signifikan Dihentikan sementara
Baca Juga:  APBN Disiapkan Jadi Penahan Guncangan Konflik Timur Tengah, Ini Kata Airlangga!

Tabel di atas menunjukkan bahwa program prioritas seperti MBG tetap dijaga, sementara anggaran untuk kebutuhan nonesensial justru yang lebih diperketat.

Tips untuk Pemerintah Daerah: Jaga Program Prioritas di Tengah Efisiensi

Kalau pemerintah daerah juga sedang menghadapi tekanan efisiensi, ada beberapa langkah yang bisa dijadikan pertimbangan agar program penting tetap bisa berjalan.

1. Evaluasi Ulang Prioritas Program

Jangan langsung memotong semua program. Evaluasi mana yang benar-benar strategis dan punya dampak langsung ke masyarakat.

2. Gunakan Pendekatan Kolaboratif

Libatkan pihak swasta atau komunitas dalam pelaksanaan program. Ini bisa mengurangi beban anggaran tanpa mengurangi kualitas program.

3. Manfaatkan Teknologi untuk Efisiensi

Gunakan sistem digital untuk pengelolaan logistik dan distribusi. Ini bisa meminimalkan pemborosan dan meningkatkan efisiensi operasional.

Disclaimer

Artikel ini disusun berdasarkan informasi yang tersedia hingga Maret 2026. Kebijakan anggaran dan efisiensi bisa berubah sewaktu-waktu tergantung situasi eksternal dan dinamika ekonomi global. Data dan kebijakan yang disebutkan bersifat informatif dan dapat berbeda dengan kondisi aktual di masa mendatang.

Ryando Putra Jameni
Reporter at anakhiv.id

Ryando Putra Jameni merupakan jurnalis dan editor konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Ryando berkomitmen menghadirkan informasi keuangan yang akurat, terpercaya, dan bermanfaat bagi masyarakat.