Multifinance

Apakah Wall Street Akan Terus Anjlok? Ini Kata Para Ahli!

Popy Lestary
×

Apakah Wall Street Akan Terus Anjlok? Ini Kata Para Ahli!

Sebarkan artikel ini
Apakah Wall Street Akan Terus Anjlok? Ini Kata Para Ahli!

Wall Street kembali mengalami tekanan pada Kamis, 19 Maret 2026. Meski begitu, indeks utama berhasil memangkas sebagian dari kerugian yang sempat terjadi di tengah sesi perdagangan. Sentimen pasar yang sempat lesu mulai menunjukkan sedikit perbaikan setelah pernyataan dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang menyatakan bahwa Iran tidak lagi memiliki kemampuan untuk memperkaya uranium setelah serangan gabungan AS-Israel selama tiga minggu terakhir.

Namun, optimisme tersebut tidak bertahan lama. Indeks S&P 500 akhirnya ditutup turun 0,2% di level 6.608,55 poin. Indeks NASDAQ juga tergelincir 0,3% ke posisi 22.090,69 poin, sementara Dow Jones Industrial Average turun lebih tajam, 0,4% ke level 46.022,14 poin. Semua indeks ini sempat mengalami penurunan yang lebih dalam sebelum akhirnya memangkas kerugian di akhir sesi.

Sentimen Pasar Tertekan oleh Eskalasi Konflik dan Lonjakan Harga Energi

Pergerakan Wall Street tidak lepas dari ketegangan geopolitik yang semakin memanas. Serangan terhadap ladang gas South Pars di Iran memicu reaksi cepat dari Teheran. Iran menanggapi dengan menargetkan fasilitas energi di Qatar dan Arab Saudi. Aksi ini semakin memperjelas bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi berkembang menjadi krisis regional yang lebih besar.

Lonjakan harga minyak mentah menjadi salah satu pemicu utama volatilitas pasar. Harga minyak Brent berjangka naik tajam karena spekulasi bahwa Amerika Serikat mungkin akan menerapkan kontrol ekspor energi. Meski isu tersebut akhirnya dibantah, dampaknya sudah terlanjur dirasakan oleh pasar saham.

  1. Harga minyak Brent naik karena spekulasi kebijakan ekspor energi AS.
  2. WTI sempat turun sebelum kembali stabil saat isu kontrol ekspor dibantah.

Dampak Serangan terhadap Infrastruktur Energi Global

Salah satu pernyataan yang mengejutkan datang dari CEO QatarEnergy. Ia mengungkapkan bahwa serangan Iran terhadap infrastruktur energi telah membuat 17% kapasitas LNG Qatar tidak dapat beroperasi selama lima tahun ke depan. Ini menjadi kabar buruk bagi pasokan energi global yang sudah tertekan akibat ketegangan di kawasan.

Baca Juga:  Harga Minyak Dunia Melonjak Lagi, Brent Tembus USD70 per Barel!
Dampak Serangan Keterangan
Kapasitas LNG Qatar 17% tidak beroperasi selama 5 tahun
Pasokan energi global Terancam karena sasaran utama adalah infrastruktur energi
Harga minyak mentah Brent dan WTI mengalami gap terbesar dalam 11 tahun

Kekhawatirkan terus meningkat bahwa infrastruktur energi akan terus menjadi target. Jika hal ini terus berlanjut, krisis energi global bisa semakin parah, yang pada akhirnya akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan stabilitas pasar keuangan.

Bank Sentral Pilih Menahan Suku Bunga

Dalam tenggang waktu yang hampir bersamaan, tiga bank sentral utama dunia memilih untuk mempertahankan suku bunga utama mereka. Federal Reserve (AS), Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank of England (BoE) sepakat untuk tidak melakukan perubahan kebijakan di tengah ketidakpastian global.

  1. Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada kisaran 5,25%-5,50%.
  2. ECB dan BoE juga memilih untuk tidak menurunkan suku bunga meski inflasi mulai menunjukkan tanda-tanda tekanan dari lonjakan harga energi.

Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi eskalasi konflik yang bisa memicu lonjakan harga lebih lanjut. Meski begitu, ketiga bank sentral tersebut menyatakan bahwa mereka tetap waspada dan siap bertindak jika situasi memburuk.

Data Ekonomi AS Turut Mempengaruhi Sentimen

Di tengah ketegangan global, data ekonomi AS juga memberikan warna sendiri. Klaim pengangguran awal turun menjadi 205.000, lebih rendah dari estimasi pasar. Ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja masih cukup stabil meski menghadapi tekanan dari luar.

Namun, sektor perumahan justru menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Penjualan rumah baru di AS anjlok 17,6% secara bulanan pada Januari, mencatat level terendah sejak Oktober 2022.

Indikator Ekonomi Data Terbaru Perbandingan Sebelumnya
Klaim Pengangguran Awal 205.000 Lebih rendah dari estimasi
Penjualan Rumah Baru 587.000 unit Turun 17,6% dari bulan sebelumnya
Baca Juga:  Dampak Ketegangan AS-Iran pada Anjloknya Harga Kontrak Berjangka Wall Street!

Data ini memperjelas bahwa meskipun tenaga kerja masih kuat, permintaan konsumen di sektor penting seperti perumahan mulai melemah. Ini bisa menjadi sinyal awal perlambatan ekonomi jika tren ini berlanjut.

Pandangan Ahli: Pasar Masih Menanti Sinyal Pasti

Dennis Follmer, kepala investasi di Montis Financial, menyatakan bahwa langkah hati-hati bank sentral justru mengecewakan investor yang berharap akan adanya penurunan suku bunga di tengah ketegangan global. Pasar saham saat ini seperti terjebak dalam kisaran sempit, bolak-balik antara tekanan dan harapan.

  1. Ketidakpastian geopolitik menjadi faktor dominan yang menggerakkan pasar.
  2. Harga minyak kini tidak hanya mempengaruhi sektor energi, tapi juga kebijakan moneter dan ekspektasi investor.

Follmer menambahkan bahwa fluktuasi harga minyak saat ini tidak hanya memengaruhi saham energi, tapi juga ekspektasi terhadap langkah-langkah kebijakan makro. Ini menunjukkan bahwa pasar saat ini sangat sensitif terhadap faktor eksternal yang berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global.

Proyeksi Suku Bunga Masih Meninggalkan Peluang Penurunan

Grafik proyeksi suku bunga dari Federal Reserve masih menyisakan kemungkinan adanya penurunan di akhir tahun ini. Namun, peluang tersebut sangat bergantung pada evolusi konflik di Timur Tengah dan data ekonomi yang akan datang.

Jika eskalasi berlanjut dan harga energi terus tinggi, bank sentral mungkin akan tetap menahan diri. Namun, jika situasi membaik dan inflasi kembali terkendali, peluang untuk penurunan suku bunga bisa meningkat lagi.

Disclaimer

Data dan perkiraan dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik, kebijakan makro ekonomi, serta data ekonomi yang dirilis secara berkala. Informasi disajikan berdasarkan sumber terpercaya namun tidak menjamin keakuratan 100%.