Dolar AS menguat pada akhir pekan ini, seiring meningkatnya permintaan investor terhadap aset safe-haven di tengah ketidakpastian global. Penguatan ini terjadi seiring dengan eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, yang memicu kekhawatiran akan dampak jangka panjang terhadap stabilitas energi global dan rantai pasok.
Indeks Dolar naik 0,3 persen menjadi 100,18 pada Jumat, 27 Maret 2026. Kenaikan ini menempatkannya pada jalur untuk mencatat kinerja bulanan terbaik sejak Juli 2025. Dalam sebulan terakhir, dolar telah menguat 2,6 persen, menunjukkan bahwa mata uang ini tetap menjadi pilihan utama investor saat ketidakpastian politik dan ekonomi meningkat.
Faktor Pendorong Penguatan Dolar AS
1. Permintaan Safe-Haven Meningkat
Investor global cenderung beralih ke dolar AS sebagai pelindung nilai ketika situasi geopolitik memanas. Dolar dikenal sebagai mata uang safe-haven utama karena stabilitas ekonomi dan kekuatan institusi Amerika Serikat. Dengan meningkatnya ketegangan di Teluk Persia, permintaan terhadap dolar secara alami meningkat.
2. Ekspektasi Suku Bunga Lebih Tinggi
Spekulasi tentang kebijakan Federal Reserve juga turut mendorong penguatan dolar. Sebelumnya, pasar memperkirakan Fed akan menurunkan suku bunga pada tahun ini. Namun, lonjakan inflasi akibat kenaikan harga energi membuat ekspektasi tersebut berubah. Investor mulai berspekulasi bahwa suku bunga bisa justru naik dalam beberapa bulan mendatang, membuat dolar lebih menarik.
Dampak pada Mata Uang Lain
3. Euro dan Pound Melemah
Euro (EUR/USD) turun 0,2 persen ke level 1,1510. Poundsterling (GBP/USD) juga melemah 0,5 persen menjadi 1,3259. Eropa yang sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah terus merasakan tekanan akibat gangguan pasokan. Ketidakpastian ini membuat investor cenderung menjauhi mata uang Eropa.
4. Yen Jepang Tertekan
Dolar terhadap yen (USD/JPY) naik 0,4 persen ke 160,25. Jepang, sebagai negara yang sangat bergantung pada impor energi, menjadi salah satu yang paling rentan terhadap kenaikan harga minyak. Pelemahan yen terhadap dolar mencerminkan kekhawatiran terhadap dampak jangka panjang dari ketegangan di Timur Tengah terhadap ekonomi Jepang.
Berikut adalah perbandingan kinerja beberapa mata uang utama terhadap dolar AS pada akhir pekan lalu:
| Mata Uang | Kurs Terhadap USD | Perubahan (%) |
|---|---|---|
| Euro (EUR) | 1,1510 | -0,2% |
| Poundsterling (GBP) | 1,3259 | -0,5% |
| Yen (JPY) | 160,25 | +0,4% |
| Dolar Australia (AUD) | 0,7200 | Stabil |
Disclaimer: Data di atas bersifat simulasi berdasarkan kondisi pasar yang diasumsikan dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan geopolitik dan ekonomi global.
Reaksi Pasar Obligasi
Imbal hasil obligasi pemerintah AS jangka 10 tahun melonjak ke level tertinggi sejak Juli 2025. Lonjakan ini terjadi karena investor menjual obligasi sebagai respon terhadap ketidakpastian. Penjualan obligasi meningkatkan imbal hasil, yang pada gilirannya membuat dolar lebih menarik karena investor mencari aset yang lebih aman.
Pandangan Ahli
Thierry Wizman, ahli strategi FX & suku bunga global di Macquarie, menyatakan bahwa penguatan dolar bukan hanya karena faktor safe-haven. Menurutnya, kekuatan dolar juga mencerminkan berkurangnya ketergantungan AS pada impor minyak. Ini memberikan keuntungan kompetitif bagi ekonomi AS dibandingkan negara-negara lain yang lebih rentan terhadap fluktuasi harga energi.
Eskalasi Ketegangan AS-Iran
Presiden Donald Trump memperpanjang tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, tekanan ini tidak banyak mengubah situasi di lapangan. Iran membantah adanya negosiasi dengan AS dan menyatakan bahwa serangan dari Israel terhadap infrastruktur mereka adalah pelanggaran terhadap tenggat waktu yang diberikan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan bahwa Israel telah menyerang dua pabrik baja, sebuah pembangkit listrik, dan situs nuklir sipil. Serangan tersebut dianggap sebagai bentuk eskalasi yang bisa memicu siklus balas dendam yang lebih besar.
Dampak pada Harga Minyak
Harga minyak mentah naik di atas USD110 per barel. Lonjakan ini terjadi karena Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi distribusi minyak global. Sekitar seperlima minyak dunia melewati selat ini, sehingga gangguan di kawasan ini langsung berdampak pada harga energi global.
Respon Pasar Asia
Di pasar valuta asing Asia, mata uang dengan ketergantungan impor energi tertinggi seperti won Korea Selatan (KRW) dan yen Jepang (JPY) menjadi paling rentan. Analis MUFG menyatakan bahwa konflik yang berkepanjangan bisa membuat premi risiko geopolitik tetap tinggi, yang berarti harga energi akan tetap mahal dalam jangka pendek.
Skenario Masa Depan
Sebagian besar analis percaya bahwa konflik ini akan bersifat jangka pendek. Namun, ada juga kemungkinan bahwa ketegangan akan berlangsung lebih lama, terutama jika tidak ada penyelesaian diplomatis yang efektif. Dalam skenario seperti itu, dolar bisa terus menguat sebagai mata uang pelindung nilai.
Kesimpulan
Penguatan dolar AS di tengah ketidakpastian konflik AS-Iran mencerminkan kombinasi antara faktor fundamental dan psikologis pasar. Investor global cenderung mencari keamanan saat ketegangan meningkat, dan dolar tetap menjadi pilihan utama. Namun, jika konflik berlarut, dampaknya bisa lebih luas, termasuk pada inflasi global dan pertumbuhan ekonomi beberapa negara yang bergantung pada impor energi.
Meskipun situasi masih dinamis, satu hal yang jelas adalah bahwa dolar AS tetap menjadi jangkar di tengah badai ketidakpastian geopolitik.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.











