Multifinance

Pensiun Muda Itu Bisa! 5 Cara Jitu Mengatur Keuangan untuk Generasi Z dan Milenial

Muhammad Rizal Veto
×

Pensiun Muda Itu Bisa! 5 Cara Jitu Mengatur Keuangan untuk Generasi Z dan Milenial

Sebarkan artikel ini
Pensiun Muda Itu Bisa! 5 Cara Jitu Mengatur Keuangan untuk Generasi Z dan Milenial

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Gaya hidup digital yang serba instan dan dipengaruhi media sosial bikin banyak Gen Z dan milenial mudah tergoda untuk konsumsi impulsif. Efek FOMO alias takut ketinggalan tren jadi salah satu alasan kenapa pengeluaran seringkali melebihi pemasukan. Padahal, di balik semua itu, masa depan finansial justru bisa terancam kalau tidak mulai disiplin menabung sejak dini—terutama untuk dana pensiun.

Riset dari Bank DBS Indonesia dalam laporan "Ageing Society 2025" menunjukkan bahwa 19 persen Gen Z (usia 22-27 tahun) dan 19 persen milenial (usia 28-43 tahun) di Asia Tenggara belum punya komitmen untuk menyiapkan dana pensiun. Padahal, dua dekade ke depan, Indonesia bakal memasuki fase masyarakat menua. Diperkirakan sekitar 100 juta penduduk belum punya tabungan pensiun pada 2038. Artinya, kalau nggak mulai serius sekarang, risiko ketergantungan di masa tua bakal makin besar.

5 Strategi Pensiun Cerdas untuk Generasi Muda

Menabung untuk pensiun memang terdengar seperti hal yang masih jauh di masa depan. Tapi, kalau sudah terlambat, ya berarti nanti malah makin berat. Nah, biar nggak boncos di masa tua, ada beberapa strategi yang bisa dilakukan sejak dini. Yuk, simak lima langkah cerdas yang bisa diterapkan Gen Z dan milenial agar masa pensiun tetap nyaman dan mandiri.

1. Mulai Menabung Sejak Dini

Keunggulan utama bagi generasi muda adalah waktu. Semakin awal mulai menabung dan menginvestasikan uang, semakin besar pula potensi pertumbuhan dana pensiun berkat efek compounding. Ini adalah fenomena di mana keuntungan investasi bisa menghasilkan keuntungan tambahan seiring waktu.

Misalnya, kalau mulai investasi Rp 500.000 per bulan sejak usia 25 tahun dengan return rata-rata 10% per tahun, di usia 55 sudah bisa punya dana sekitar Rp 1,1 miliar. Tapi kalau baru mulai di usia 35, jumlahnya cuma sekitar Rp 370 juta. Beda sepuluh tahun bisa bikin selisih ratusan juta.

Baca Juga:  15 Aplikasi Fintech Investasi Modal Kecil dan Legal OJK Terbaru 2026

2. Hitung Kebutuhan Pensiun Secara Realistis

Banyak orang masih berpikir bahwa dana pensiun hanya untuk kebutuhan dasar seperti makan, tempat tinggal, dan biaya kesehatan. Padahal, masa pensiun bukan berarti hidup harus dibatasi. Kalau ingin tetap aktif, jalan-jalan, atau punya hobi, itu juga butuh anggaran.

Cara terbaik adalah menghitung kebutuhan pensiun berdasarkan gaya hidup saat ini, lalu menyesuaikannya dengan inflasi. Misalnya, kalau pengeluaran bulanan saat ini Rp 5 juta, maka di masa pensiun nanti, nominal itu bisa jadi dua kali lipat karena inflasi. Jadi, target dana pensiun harus lebih tinggi dari yang dibayangkan.

3. Susun Anggaran Bulanan dengan Metode 50-30-20

Salah satu cara paling efektif mengelola keuangan adalah dengan metode 50-30-20. Ini adalah pembagian pengeluaran yang seimbang dan bisa diterapkan oleh siapa saja, terutama yang baru mulai belajar mengatur uang.

  • 50% untuk kebutuhan pokok seperti makan, transportasi, dan tagihan
  • 30% untuk keinginan pribadi seperti hiburan, belanja, dan hobi
  • 20% sisanya untuk tabungan dan investasi

Dengan metode ini, pengeluaran tetap terkontrol dan sebagian pendapatan bisa dialokasikan untuk masa depan.

4. Tentukan Strategi Investasi Sesuai Fase Kehidupan

Strategi investasi nggak bisa pakai acuan sama untuk semua orang. Setiap fase kehidupan punya kebutuhan dan risiko yang berbeda. Misalnya:

  • Bagi yang masih muda dan baru mulai bekerja, lebih aman memilih instrumen berisiko rendah seperti reksa dana pendapatan tetap atau obligasi ritel.
  • Sementara bagi milenial yang sudah punya penghasilan stabil, bisa mulai mengeksplorasi investasi dengan potensi return lebih tinggi seperti saham atau reksa dana campuran.

Alokasi investasi yang umum untuk milenial:

  • 60-70% di saham untuk pertumbuhan
  • 20-30% di obligasi untuk stabilitas
  • 10-15% di alternatif seperti emas atau properti
Baca Juga:  Mengapa Stockbit dan Bibit Jadi Pilihan Tepat untuk Masa Depan Investasi Digital Anda?

5. Pahami Siklus Ekonomi untuk Investasi yang Lebih Cerdas

Investasi yang baik bukan cuma soal pilih produk yang populer. Tapi juga soal timing dan pemahaman terhadap kondisi ekonomi. Misalnya, saat ekonomi sedang resesi, pasar saham biasanya turun tapi bisa jadi peluang beli saham murah. Sebaliknya, saat ekonomi membaik, pasar saham biasanya naik dan bisa jadi waktu yang tepat untuk ambil keuntungan.

Memahami siklus ekonomi membantu menentukan kapan harus agresif dan kapan harus lebih konservatif. Ini penting agar portofolio nggak tergerus saat kondisi ekonomi nggak bersahabat.

Perbandingan Potensi Dana Pensiun dengan dan Tanpa Investasi

Usia Mulai Investasi Jumlah Bulanan Durasi Investasi Total Investasi Estimasi Dana Pensiun (10% return/thn)
25 tahun Rp 500.000 30 tahun Rp 180 juta Rp 1,1 miliar
35 tahun Rp 500.000 20 tahun Rp 120 juta Rp 370 juta
Tanpa investasi Rp 0

Catatan: Data di atas bersifat estimasi dan bisa berubah tergantung kondisi pasar, return investasi, dan inflasi.

Kesimpulan

Masa pensiun bukan cuma urusan lansia. Ini mulai dari sekarang. Kalau masih muda dan belum punya tabungan pensiun, bukan berarti terlambat. Yang penting adalah mulai dari hal kecil, konsisten, dan punya strategi yang tepat. Dengan memanfaatkan waktu, memahami kebutuhan masa depan, dan mengelola uang dengan bijak, masa tua bisa tetap produktif dan nyaman.

Disclaimer: Data dan estimasi dalam artikel ini bersifat simulasi dan bisa berubah tergantung kondisi ekonomi, return investasi, serta kebijakan pemerintah atau lembaga keuangan terkait.