Multifinance

Rupiah Melesat Tajam, Tembus Level Rp16.802 per Dolar AS!

Ryando Putra Jameni
×

Rupiah Melesat Tajam, Tembus Level Rp16.802 per Dolar AS!

Sebarkan artikel ini
Rupiah Melesat Tajam, Tembus Level Rp16.802 per Dolar AS!

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) kembali menguat pada perdagangan pekan ini. Penguatan ini tercatat sekitar 86 poin, membawa rupiah ke level Rp16.802 per USD di sesi penutupan perdagangan, Senin, 23 Februari 2026. Angka ini menunjukkan bahwa mata uang lokal semakin kuat dibandingkan dengan greenback dalam beberapa hari terakhir.

Penguatan ini tidak terjadi begitu saja. Ada sejumlah faktor eksternal dan internal yang turut memengaruhi pergerakan rupiah. Data ekonomi dari Amerika Serikat, kebijakan moneter global, hingga sentimen pasar menjadi variabel penting yang menentukan arah pergerakan nilai tukar. Di tengah situasi geopolitik yang dinamis dan ketidakpastian ekonomi global, penguatan rupiah bisa menjadi sinyal positif bagi stabilitas ekonomi domestik.

Faktor yang Mendorong Penguatan Rupiah

Pergerakan rupiah tidak lepas dari dinamika ekonomi global, khususnya dari negara maju seperti Amerika Serikat. Beberapa faktor eksternal turut memengaruhi kekuatan mata uang Garuda, terutama dalam jangka pendek. Berikut adalah beberapa penyebab utama yang membuat rupiah menguat terhadap dolar AS.

1. Penurunan PDB AS Kuartal IV-2025

Salah satu faktor utama yang menyokong penguatan rupiah adalah data Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat untuk kuartal IV-2025. Data tersebut menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang melambat secara year-over-year (YoY), turun dari 4,4 persen menjadi hanya 1,4 persen.

Penurunan ini dipicu oleh berbagai faktor, salah satunya adalah shutdown pemerintah AS yang berlangsung selama 43 hari. Shutdown ini berdampak pada aktivitas ekonomi, termasuk pengeluaran publik dan produktivitas sektor swasta.

2. Kenaikan Inflasi Inti AS di Bawah Ekspektasi

Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) inti, yang menjadi tolok ukur inflasi utama The Fed, mencatat kenaikan menjadi 3,0 persen, naik dari 2,8 persen sebelumnya. Meskipun angka ini tetap berada di atas target inflasi 2 persen, kenaikan yang moderat ini memberikan sinyal bahwa tekanan inflasi belum terlalu besar.

Baca Juga:  Rupiah Menguat Tajam, Sentuh Level Rp16.853 per Dolar AS!

Kondisi ini bisa membuat The Fed lebih hati-hati dalam menaikkan suku bunga, yang pada akhirnya memperlemah dolar AS dan menguatkan rupiah.

3. Kebijakan Tarif Impor oleh Pemerintah AS

Ancaman Presiden Donald Trump untuk menerapkan tarif impor sebesar 10 persen terhadap barang-barang impor global dalam waktu 150 hari juga memicu volatilitas pasar. Awalnya, tarif yang direncanakan adalah 10 persen, namun kemudian dinaikkan menjadi 15 persen, sesuai dengan batas maksimal Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan AS.

Kebijakan ini menimbulkan ketidakpastian di pasar global. Investor mulai memindahkan portofolio mereka ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk mata uang-mata uang dengan fundamental kuat seperti rupiah.

Perbandingan Data Kurs Rupiah terhadap USD

Perdagangan rupiah terhadap dolar AS pada Senin, 23 Februari 2026, mencatatkan beberapa angka berbeda tergantung pada sumber data yang digunakan. Berikut adalah perbandingan kurs rupiah dari berbagai sumber resmi dan platform keuangan:

Sumber Data Kurs Rupiah per USD Perubahan Harian
Bloomberg Rp16.802 +86 poin
Yahoo Finance Rp16.790 +90 poin
Jisdor BI Rp16.818 +67 poin

Perbedaan angka ini wajar terjadi karena metode pengambilan data dan waktu referensi yang berbeda. Namun, secara umum, semua sumber menunjukkan bahwa rupiah menguat terhadap dolar AS.

Dampak Penguatan Rupiah terhadap Ekonomi Domestik

Penguatan rupiah terhadap dolar AS membawa dampak yang cukup signifikan terhadap berbagai sektor ekonomi dalam negeri. Dalam jangka pendek, penguatan ini bisa memberikan tekanan pada eksportir, karena produk lokal menjadi lebih mahal di pasar internasional.

Namun, di sisi lain, penguatan rupiah juga membantu menekan biaya impor. Hal ini sangat menguntungkan sektor industri yang bergantung pada bahan baku impor, seperti manufaktur dan elektronik.

Baca Juga:  Rupiah Menguat Tajam, Sentuh Level Rp16.853 per Dolar AS!

1. Sektor Impor dan Harga Barang

Dengan rupiah yang menguat, harga barang impor cenderung turun. Ini bisa membantu menahan laju inflasi domestik, terutama untuk produk-produk yang bergantung pada komponen dari luar negeri.

2. Sektor Ekspor

Sebaliknya, eksportir lokal mungkin akan merasakan tekanan karena produk mereka menjadi lebih mahal di pasar global. Ini bisa mengurangi daya saing produk Indonesia di luar negeri.

3. Pasar Modal dan Investasi

Penguatan rupiah juga bisa menarik investor asing yang mencari aset stabil. Namun, ketidakpastian global tetap menjadi risiko yang perlu diwaspadai.

Proyeksi Kurs Rupiah ke Depan

Meskipun saat ini rupiah menguat, pergerakan ke depan masih sangat tergantung pada beberapa faktor global. Kebijakan moneter The Fed, data ekonomi AS, hingga perkembangan geopolitik global akan terus menjadi penentu arah nilai tukar.

Bank Indonesia (BI) juga akan terus memantau situasi ini. Jika diperlukan, BI bisa melakukan intervensi pasar untuk menjaga stabilitas rupiah.

Disclaimer

Data kurs yang disajikan bersifat mengacu pada sumber terpercaya namun bisa berubah sewaktu-waktu tergantung pada dinamika pasar. Angka-angka yang digunakan dalam artikel ini adalah referensi dan bukan sebagai dasar keputusan investasi. Pembaca disarankan untuk selalu memeriksa data terbaru dari sumber resmi sebelum membuat keputusan keuangan.

Ryando Putra Jameni
Reporter at anakhiv.id

Ryando Putra Jameni merupakan jurnalis dan editor konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Ryando berkomitmen menghadirkan informasi keuangan yang akurat, terpercaya, dan bermanfaat bagi masyarakat.