Ilustrasi aktivitas perdagangan ekspor-impor. Foto: Metrotvnews.com/Dhana Kencana.
Eskalasi konflik di Timur Tengah memang bikin banyak negara was-was. Apalagi kawasan itu jadi salah satu pusat energi global. Tapi buat Indonesia, dampak langsungnya masih tergolong terbatas. Sebab, porsi ekspor ke kawasan itu cuma sekitar 4,2 persen dari total ekspor nasional. Angka itu nggak terlalu besar, mengingat sebagian besar ekspor Indonesia malah mengalir ke Asia Timur, Amerika Utara, dan Eropa.
Meski begitu, bukan berarti Indonesia bisa seenaknya. Ada risiko tak langsung yang mesti diwaspadai. Misalnya, lonjakan harga energi global, volatilitas nilai tukar, hingga perlambatan industri di negara mitra dagang utama. Semua itu bisa berimbas ke performa ekspor nasional. Apalagi, sebagian besar impor energi Indonesia juga terhubung secara tidak langsung dengan pasokan dari Timur Tengah.
Ekspor ke Timur Tengah Masih Kecil, Tapi Perlu Diwaspadai
Walaupun eksposur langsung terhadap Timur Tengah masih rendah, bukan berarti bisa disepelekan. Jalur perdagangan strategis seperti Selat Hormuz jadi salah satu titik kritis yang terus dipantau. Kalau jalur ini terganggu, dampaknya bisa dirasakan di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
1. Struktur Ekspor ke Timur Tengah
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah oleh Indonesia Eximbank Institute menunjukkan bahwa ekspor ke Timur Tengah hanya sekitar 4,2 persen dari total ekspor nasional. Komoditas utama yang dikirim ke kawasan ini antara lain:
- Minyak kelapa sawit (HS 1511)
- Perhiasan (HS 7113)
- Mobil dan kendaraan bermotor (HS 8703)
Sementara itu, impor dari kawasan ini mencapai sekitar 3,9 persen dari total impor nasional, didominasi oleh minyak mentah dan produk energi lainnya.
2. Distribusi Ekspor Indonesia ke Kawasan Lain
Mayoritas ekspor Indonesia justru mengalir ke kawasan lain, bukan Timur Tengah. Berikut rinciannya:
| Kawasan | Porsi Ekspor |
|---|---|
| Asia Timur | 36,4% |
| Asia Tenggara | 20,8% |
| Amerika Utara | 11,5% |
| Asia Selatan | 9,6% |
| Eropa Barat | 5,7% |
Artinya, kinerja ekspor Indonesia lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi ekonomi di kawasan-kawasan tersebut. Kalau ekonomi mereka tumbuh, permintaan terhadap produk Indonesia juga cenderung naik.
Jalur Selat Hormuz Jadi Titik Rawan
3. Pentingnya Selat Hormuz
Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran biasa. Ini adalah salah satu arteri utama perdagangan energi global. Lebih dari 30 persen produksi minyak dunia berasal dari kawasan Teluk Persia, dan sekitar 20 hingga 30 persen minyak global melewati selat ini.
Kalau jalur ini terganggu, harga energi global bisa langsung melonjak. Dan itu akan berimbas ke biaya logistik serta produksi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
4. Dampak Tak Langsung pada Impor Energi
Walaupun impor minyak Indonesia tidak langsung dari Timur Tengah, tapi sekitar 75 persen pasokannya datang dari Singapura dan Malaysia. Kedua negara ini justru mengimpor minyak mentah dari kawasan Teluk. Jadi kalau pasokan terganggu, harga energi yang dirasakan Indonesia juga bakal naik.
Perlambatan Global Bisa Tekan Permintaan
5. Pengaruh pada Negara Mitra Dagang Utama
Negara-negara seperti Tiongkok, Jepang, India, dan Korea Selatan adalah konsumen utama energi dari Timur Tengah. Mereka juga jadi pasar penting bagi ekspor Indonesia. Kalau biaya energi di negara-negara itu naik, aktivitas industri bisa melambat. Dan itu berpotensi menekan permintaan terhadap produk ekspor Indonesia.
6. Proyeksi Harga Minyak Global
Kalau ketegangan geopolitik berlangsung lama, harga minyak global sepanjang 2026 diperkirakan berada di kisaran USD85 hingga USD120 per barel. Angka itu jauh lebih tinggi dibanding rata-rata awal tahun yang masih sekitar USD60 per barel.
Kenaikan ini bisa berimbas ke biaya produksi, terutama di sektor yang bergantung pada bahan baku impor. Misalnya industri manufaktur, petrokimia, dan logam dasar.
Ekspor Indonesia Masih Punya Peluang Tumbuh
7. Kenaikan Harga Komoditas Energi dan Agro
Di tengah ketidakpastian ini, beberapa komoditas ekspor Indonesia justru bisa mendapat dorongan. Batubara, misalnya, yang menyumbang sekitar 8 hingga 9 persen dari total ekspor nasional. Harga batubara cenderung naik seiring lonjakan harga energi global.
Komoditas lain yang juga punya potensi adalah minyak kelapa sawit (CPO). Permintaan global terhadap produk agro ini masih solid, sehingga harganya cenderung stabil hingga naik.
8. Penurunan Suku Bunga Dorong Daya Saing
Sebelumnya, tren penurunan suku bunga di sejumlah negara membantu menekan biaya produksi. Ini membuka peluang bagi produk ekspor Indonesia untuk lebih kompetitif di pasar global. Terutama produk yang menggunakan bahan baku lokal.
9. Proyeksi Pertumbuhan Ekspor
Dengan mempertimbangkan semua faktor, ekspor Indonesia pada 2026 masih diperkirakan bisa tumbuh sekitar 4 hingga 5 persen. Dan kalau kondisi global membaik serta ketegangan geopolitik mereda, pertumbuhan bisa mencapai 5 hingga 6 persen pada 2027.
Kesimpulan
Meski konflik di Timur Tengah bikin banyak negara khawatir, ekspor Indonesia masih punya ruang untuk tumbuh. Porsi ekspor ke kawasan itu memang kecil, tapi risiko tak langsung tetap mesti diwaspadai. Terutama soal kenaikan harga energi dan perlambatan ekonomi global.
Namun, dengan kenaikan harga beberapa komoditas unggulan dan daya saing yang masih terjaga, Indonesia punya peluang untuk tetap eksis di pasar internasional. Yang penting, pemerintah dan pelaku usaha terus waspada dan adaptif terhadap dinamika global.
Disclaimer: Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan kondisi hingga Maret 2026. Angka dan situasi bisa berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan geopolitik dan ekonomi global.
Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.












