Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah di awal perdagangan hari ini, Senin, 16 Maret 2026. Setelah dibuka di level 7.115,451, indeks sempat terperosok hingga 183,128 poin atau sekitar 2,57 persen, dan berada di kisaran 6.954,084. Pergerakan ini menunjukkan sentimen pasar yang masih rentan terhadap tekanan eksternal dan ketidakpastian global.
Sebanyak 587 saham tercatat melemah, sementara hanya 84 saham yang berhasil menguat. Tidak sedikit pula saham yang stagnan, yaitu sebanyak 72 emiten. Volume transaksi hingga pukul 09.46 WIB mencapai Rp4,102 triliun dengan total saham yang diperdagangkan sebanyak 10,577 miliar saham. Angka ini menunjukkan aktivitas perdagangan yang cukup tinggi meski mayoritas saham bergerak negatif.
IHSG Terus Tertekan, Investor Waspadai Koreksi Lebih Dalam
Pergerakan IHSG pagi ini tidak lepas dari sentimen pasar global yang juga sedang melemah. Investor mulai waspada terhadap potensi koreksi yang lebih dalam, terutama mengingat tekanan dari bursa saham luar negeri yang juga sedang mengalami volatilitas tinggi.
1. Pelemahan Bursa Global Picu Sentimen Negatif
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menyebut bahwa IHSG berpotensi melanjutkan koreksi seiring dengan pelemahan bursa saham Amerika Serikat. Indeks Wall Street yang sempat tertekan pada akhir pekan lalu menjadi pemicu utama ketidakstabilan pasar Asia, termasuk Indonesia.
2. Investor Asing Masih Lakukan Net Sell
Pada perdagangan sebelumnya, Jumat (13/3), IHSG ditutup dengan penurunan 3,05 persen. Di tengah pelemahan tersebut, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp222 miliar. Saham-saham seperti BMRI, BBNI, BBRI, GOTO, dan INDF menjadi target utama penjualan asing.
3. Pergerakan Indeks Dunia Tambah Tekanan
Indeks-indeks saham global juga ikut melemah. Indeks S&P 500 turun 0,61 persen, Nasdaq Composite anjlok 0,93 persen, dan Dow Jones Industrial Average turun 0,26 persen. Penurunan ini dipicu oleh lonjakan harga minyak akibat ketegangan geopolitik di Iran, yang memicu kekhawatiran akan inflasi dan perlambatan ekonomi global.
Bursa Asia Tertekan, IHSG Tak Luput dari Koreksi
Sentimen negatif tidak hanya terjadi di pasar saham Amerika. Bursa Asia juga mengalami pelemahan yang cukup signifikan. Investor di kawasan ini mulai mencairkan posisi saham mereka sebagai antisipasi terhadap risiko yang semakin tinggi.
1. Nikkei 225 Jepang Anjlok 1,16 Persen
Indeks Nikkei 225 Jepang mencatatkan penurunan cukup dalam, yaitu sebesar 1,16 persen. Pelemahan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap dampak kenaikan harga energi terhadap pertumbuhan ekonomi Jepang.
2. Hang Seng Hong Kong Melemah 0,98 Persen
Indeks Hang Seng Hong Kong juga tidak mampu bertahan, dengan penurunan sebesar 0,98 persen. Tekanan dari sentimen global dan data ekonomi yang kurang mendukung menjadi penyebab utama pelemahan ini.
3. Kospi Korea Selatan Turun Tajam 1,72 Persen
Korea Selatan mencatatkan pelemahan paling dalam di antara negara-negara Asia, dengan indeks Kospi yang turun 1,72 persen. Investor khawatir akan dampak kenaikan harga minyak terhadap sektor industri dan ekspor.
4. Indeks Lainnya Ikut Melemah
Selain tiga indeks utama di atas, indeks lainnya di Asia juga mengalami tekanan. Indeks Taiex Taiwan turun 0,54 persen, ASX 200 Australia melemah 0,14 persen, FTSE Straits Times Singapura turun 0,27 persen, dan FTSE Malay KLCI Malaysia melemah 0,71 persen.
Perbandingan Pergerakan Indeks Asia, 13 Maret 2026
| Indeks | Negara | Perubahan (%) |
|---|---|---|
| Nikkei 225 | Jepang | -1,16% |
| Hang Seng | Hong Kong | -0,98% |
| Kospi | Korea Selatan | -1,72% |
| Taiex | Taiwan | -0,54% |
| ASX 200 | Australia | -0,14% |
| FTSE Straits Times | Singapura | -0,27% |
| FTSE Malay KLCI | Malaysia | -0,71% |
Catatan: Data diambil dari penutupan perdagangan Jumat, 13 Maret 2026.
Investor Harus Waspadai Dampak Sentimen Global
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia tidak berdiri sendiri. IHSG sangat rentan terhadap sentimen global, terutama dari bursa saham Amerika Serikat dan Asia. Investor perlu lebih selektif dalam memilih saham dan memperhatikan indikator eksternal yang bisa memicu volatilitas.
1. Waspadai Saham yang Rentan Sentimen Asing
Saham dengan kepemilikan asing tinggi seperti BMRI, BBNI, BBRI, GOTO, dan INDF perlu diperhatikan lebih lanjut. Saham-saham ini rentan terhadap pergerakan investor asing yang cenderung menjual saham ketika sentimen global memburuk.
2. Fokus pada Saham Defensive
Investor yang ingin menghindari risiko tinggi bisa mempertimbangkan saham-saham defensive seperti sektor konsumsi, farmasi, dan infrastruktur. Saham jenis ini cenderung lebih stabil di tengah ketidakpastian pasar.
3. Pantau Harga Minyak dan Geopolitik
Lonjakan harga minyak akibat ketegangan geopolitik bisa memicu inflasi dan perlambatan ekonomi global. Investor perlu memantau perkembangan harga energi dan situasi politik internasional secara berkala.
Level Support dan Resistensi IHSG Hari Ini
Fanny Suherman dari BNI Sekuritas memperkirakan bahwa IHSG akan bergerak dalam range tertentu hari ini. Investor bisa menggunakan level-level berikut sebagai acuan dalam pengambilan keputusan.
1. Support: 7.000 – 7.080
Level support ini menjadi batas bawah yang jika tembus, bisa memicu koreksi lebih dalam. Investor jangka pendek bisa menggunakan level ini sebagai titik keluar jika tidak ingin menanggung risiko lebih besar.
2. Resistensi: 7.170 – 7.200
Level resistensi menjadi area tekanan bagi penguatan IHSG. Jika indeks berhasil menembus level ini, potensi rebound bisa terjadi. Namun, breakout di atas level ini masih perlu validasi volume perdagangan.
Strategi Investasi di Tengah Volatilitas Pasar
Investor yang ingin bertahan di tengah volatilitas tinggi perlu menerapkan strategi yang tepat. Bukan hanya soal timing, tetapi juga diversifikasi dan manajemen risiko.
1. Gunakan Pendekatan Dollar-Cost Averaging (DCA)
Metode ini membantu mengurangi risiko timing market dengan membeli saham secara berkala dalam jumlah tetap, terlepas dari fluktuasi harga.
2. Jangan Terjebak FOMO
Fear of Missing Out (FOMO) sering kali membuat investor membeli saham di harga tinggi. Saat volatilitas tinggi, emosi bisa mengalahkan logika. Lebih baik menunggu timing yang tepat daripada terburu-buru masuk pasar.
3. Evaluasi Portofolio Secara Berkala
Investor perlu mengevaluasi kembali portofolio mereka untuk memastikan tidak terlalu terpapar pada sektor yang rentan terhadap sentimen global.
Disclaimer
Data dan informasi dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan pasar. Keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada analisis mandiri atau konsultasi dengan profesional keuangan. Artikel ini tidak bertujuan sebagai rekomendasi investasi.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.











