Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pagi ini kembali melemah. Pukul 10.06 WIB, kurs rupiah berada di level Rp17.025 per USD, turun sekitar 0,25 persen atau 42 poin dari posisi sebelumnya di Rp16.983. Meski begitu, pergerakan ini masih berada dalam kisaran yang fluktuatif sepanjang hari, seiring sentimen global yang terus berubah.
Menurut data Yahoo Finance, rupiah sempat berada di level Rp16.997 per USD. Sementara itu, analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.980 hingga Rp17.020 per USD sebelum akhirnya ditutup melemah. Meski tidak terlalu dramatis, pelemahan ini mencerminkan dinamika eksternal yang terus memengaruhi mata uang lokal.
Faktor Global yang Mendorong Pelemahan Rupiah
Pergerakan rupiah pagi ini tidak lepas dari situasi geopolitik dan ekonomi global. Salah satu faktor utamanya adalah pernyataan Presiden AS Donald Trump soal kemungkinan penarikan diri dari keterlibatan militer di Timur Tengah dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Pernyataan ini memberikan sinyal bahwa konflik di kawasan bisa segera berakhir, tetapi respons pasar masih cenderung hati-hati.
Iran juga memberikan respons melalui Presiden Masoud Pezeshkian yang menyatakan kesiapan untuk mengakhiri perang. Namun, negosiasi tetap bersyarat. Meski ada harapan akan gencatan senjata, pasar masih menyeimbangkan antara optimisme diplomatik dan risiko gangguan pasokan yang masih berlangsung.
1. Ketegangan di Selat Hormuz
Selat Hormuz, jalur kritis bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia, mengalami penurunan lalu lintas kapal tanker akibat ketegangan bersenjata. Ini menyebabkan kenaikan harga energi global dan memperbesar tekanan pada negara-negara pengimpor, termasuk Indonesia.
2. Data Tenaga Kerja AS yang Melemah
Data Survei Lowongan Kerja dan Perputaran Tenaga Kerja (JOLTS) dari AS menunjukkan bahwa lowongan kerja pada Februari turun menjadi 6,882 juta, jauh di bawah ekspektasi 6,92 juta. Penurunan ini memberi indikasi bahwa pasar tenaga kerja AS sedang melambat, yang bisa memengaruhi kebijakan Federal Reserve terkait suku bunga.
3. Harapan Pemangkasan Suku Bunga Mulai Sirna
Sebelumnya, pasar memperkirakan Fed akan memangkas suku bunga dua kali di tahun 2026. Namun, dengan harga energi yang tetap tinggi dan data ekonomi yang tidak menentu, ekspektasi tersebut mulai pudar. Ini membuat investor lebih waspada, termasuk terhadap mata uang-mata uang berkembah seperti rupiah.
Neraca Dagang Indonesia Tetap Surplus
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2026 kembali surplus sebesar USD1,27 miliar. Angka ini lebih tinggi dibanding surplus Januari yang hanya USD0,95 miliar. Surplus ini sudah berlangsung selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
4. Komoditas Nonmigas Jadi Penopang Utama
Surplus Februari didukung oleh surplus komoditas nonmigas sebesar USD2,19 miliar. Komoditas utama penyumbang surplus antara lain lemak dan minyak hewani nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Ini menunjukkan bahwa sektor ekspor nonmigas tetap menjadi andalan dalam menjaga stabilitas neraca perdagangan.
5. Ekspor Naik Tipis, Impor Naik Lebih Tinggi
Total ekspor Indonesia pada Februari mencapai USD22,17 miliar, naik 1,01% secara tahunan. Namun, impor justru naik lebih tinggi, mencapai USD20,89 miliar atau naik 10,85% dibanding periode yang sama tahun lalu. Kenaikan impor ini dipicu oleh kebutuhan bahan baku dan material industri yang terus meningkat.
Aktivitas Manufaktur RI Masih di Zona Ekspansi
Indeks PMI manufaktur Indonesia pada Maret 2026 mencatat angka 50,1, turun dari 53,8 di bulan sebelumnya. Meski mengalami penurunan, angka ini masih berada di atas 50, yang menandakan aktivitas manufaktur masih dalam zona ekspansi.
6. Kelangkaan Bahan Baku Jadi Tantangan
Panelis survei PMI melaporkan bahwa output atau produksi mengalami penurunan yang tergolong moderat. Penurunan ini sudah berlangsung selama sembilan bulan berturut-turut sejak Juni 2025. Salah satu penyebab utamanya adalah kelangkaan pasokan bahan baku dan kenaikan harga material, yang sebagian besar dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah dan gejolak ekonomi global.
Perbandingan Data Ekonomi Utama Indonesia (Februari 2026)
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Surplus Neraca Dagang | USD1,27 miliar |
| Ekspor | USD22,17 miliar |
| Impor | USD20,89 miliar |
| Kenaikan Ekspor (yoy) | +1,01% |
| Kenaikan Impor (yoy) | +10,85% |
| PMI Manufaktur Maret | 50,1 |
| PMI Manufaktur Februari | 53,8 |
Catatan: Data dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dinamika ekonomi global dan kebijakan pemerintah.
Rupiah dan Prospek Jangka Pendek
Meski pagi ini rupiah melemah, bukan berarti mata uang Garuda akan terus tertekan. Sentimen global yang berubah-ubah, terutama terkait kebijakan moneter AS dan perkembangan geopolitik, akan terus menjadi penentu arah pergerakan rupiah ke depan.
Namun, surplus neraca perdagangan yang konsisten dan kinerja ekspor yang cukup stabil memberikan fondasi yang cukup kuat bagi rupiah. Jika tekanan eksternal tidak terlalu besar, rupiah berpotensi menguat kembali di tengah pekan ini.
Kesimpulan
Pelemahan rupiah pagi ini ke level Rp17.025 per USD adalah bagian dari fluktuasi normal yang dipengaruhi oleh sentimen global. Meski ada tekanan dari ketegangan di Timur Tengah dan data ekonomi AS yang melemah, neraca perdagangan Indonesia yang tetap surplus menjadi penopang penting bagi stabilitas nilai tukar.
Investor dan pelaku pasar tetap perlu memantau perkembangan kebijakan moneter global serta dinamika geopolitik yang bisa memicu volatilitas lebih lanjut. Untuk saat ini, rupiah masih berada dalam kisaran yang dapat dikelola, meski potensi koreksi ke atas atau ke bawah tetap terbuka tergantung situasi eksternal.
Bintang Fatih Wibawa merupakan penulis dan jurnalis yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Bintang berkomitmen menyajikan informasi keuangan yang akurat, faktual, dan bermanfaat bagi pembaca.












