Harga minyak mentah kembali naik tajam menjelang akhir pekan, dengan Brent mencatat level di atas USD110 per barel. Lonjakan ini terjadi seiring memudarnya harapan akan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan kembali memanas usai serangan udara yang dilancarkan Israel—dengan klaim koordinasi dari AS—menargetkan sejumlah infrastruktur penting Iran.
Ilustrasi. Foto: Freepik.
Perdagangan Jumat (27 Maret 2026) menunjukkan kenaikan signifikan, dengan kontrak minyak Brent untuk Mei 2026 naik 4,3% menjadi USD112,60 per barel. Sementara itu, WTI juga melonjak 5% ke level USD99,28 per barel. Kenaikan ini mencerminkan kembali optimisme pasar yang sebelumnya sempat mereda karena isu diplomasi.
Ketegangan Geopolitik Picu Lonjakan Harga Minyak
Ketegangan antara AS dan Iran kembali memanas setelah serangan yang dilancarkan Israel dianggap sebagai eskalasi yang melibatkan koordinasi dengan Washington. Iran menuduh Israel menyerang dua pabrik baja besar, sebuah pembangkit listrik, dan situs nuklir sipil.
1. Pernyataan Iran soal Serangan Israel
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan bahwa serangan Israel merupakan pelanggaran terhadap tenggat waktu diplomatik yang diperpanjang oleh Gedung Putih. Iran bersumpah akan membalas dengan harga yang mahal.
2. Respons Trump dan Perpanjangan Ultimatum
Presiden Trump mengumumkan perpanjangan tenggat waktu bagi Iran untuk membuka blokade Selat Hormuz hingga 6 April. Ia mengklaim bahwa perpanjangan ini atas permintaan Iran sendiri, meski pihak Teheran membantah adanya pembicaraan diplomatik yang sedang berlangsung.
3. Ultimatum Sebelumnya dan Ancaman Serangan
Sebelumnya, Trump sempat mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran jika negara itu tidak membuka jalur Selat Hormuz. Ancaman itu sempat ditunda selama beberapa hari karena adanya diskusi diplomatik, namun kini kembali menjadi sorotan.
Reaksi Global dan Kekhawatiran terhadap Blokade Selat Hormuz
Selat Hormuz menjadi titik kritis dalam pasokan minyak global. Sekitar 20% minyak dunia melewati jalur ini, sehingga setiap gangguan di sini langsung berimbas pada harga energi dunia.
1. Pernyataan Menteri Luar Negeri AS soal Pengenaan Tol
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa rencana Iran untuk mengenakan biaya transit di Selat Hormuz adalah ilegal dan berbahaya. Ia menegaskan bahwa langkah semacam itu tidak hanya melanggar hukum internasional, tetapi juga bisa memicu ketidakstabilan global.
2. Penolakan terhadap Bantuan Internasional
Meski Gedung Putih meminta bantuan dari sekutu untuk membuka jalur tersebut, sebagian besar negara menolak campur tangan militer. Hal ini membuat situasi semakin sulit untuk diselesaikan secara damai.
3. Dampak pada Pasar Minyak Dunia
Mantan gubernur Bank Dunia untuk Kazakhstan, Yerbol Orynbayev, menyatakan bahwa prospek harga minyak sangat bergantung pada seberapa cepat konflik ini berakhir. Ia memperingatkan bahwa jika konflik berlangsung lebih dari dua minggu, dampaknya bisa jauh lebih besar dan sulit dikendalikan.
Fluktuasi Harga dan Dampak Inflasi Global
Harga minyak sempat mengalami sedikit koreksi di awal pekan karena harapan diplomasi. Namun, seiring kabar buruk dari Timur Tengah, Brent dan WTI kembali naik dan bahkan menghapus seluruh kerugian mingguan.
1. Lonjakan Harga dan Volatilitas Pasar
Lonjakan harga minyak ini memicu kekhawatiran akan lonjakan inflasi energi di berbagai negara. Investor khawatir bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi global.
2. Imbal Hasil Obligasi Naik Tajam
Imbal hasil obligasi pemerintah AS jangka 10 tahun mencatat level tertinggi sejak Juli lalu. Ini menunjukkan bahwa investor mulai memperhitungkan risiko inflasi dan ketidakpastian geopolitik dalam jangka panjang.
3. Prediksi Jangka Pendek
Yerbol Orynbayev memperingatkan bahwa fluktuasi harga minyak akan terus terjadi dalam jangka pendek. Ia menyebut bahwa pasar saat ini sangat sensitif terhadap setiap pernyataan atau berita kecil, yang bisa langsung memicu volatilitas besar.
Perbandingan Harga Minyak Global
Berikut adalah perbandingan harga minyak global pada akhir pekan 27-28 Maret 2026:
| Jenis Minyak | Harga (USD/barel) | Perubahan (%) |
|---|---|---|
| Brent (Mei 2026) | 112,60 | +4,3% |
| WTI (Mei 2026) | 99,28 | +5,0% |
Disclaimer
Harga minyak sangat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik dan kondisi pasar. Data dalam artikel ini bersifat terbatas dan hanya mencerminkan kondisi hingga akhir Maret 2026.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.











