THR memang identik dengan suasana syukuran dan kebahagiaan menjelang Lebaran. Namun di balik euforia pencairan THR, ada potensi risiko yang tidak kalah penting untuk diwaspadai: maraknya penipuan digital. Saat ini, hampir semua pekerja sudah menerima THR, dan ini menjadi momen yang kerap dimanfaatkan pelaku kejahatan siber.
Masyarakat pun diimbau untuk lebih waspada, terutama dalam menghadapi tautan atau pesan mencurigakan. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melalui Direktur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik, Teguh Afriyadi, mengingatkan bahwa setidaknya ada sekitar 1.700 laporan scam setiap harinya. Angka ini meningkat tajam menjelang hari besar keagamaan seperti Lebaran.
Modus Penipuan Digital yang Sering Terjadi
Tidak semua penipuan datang dengan cara yang jelas. Banyak dari mereka menggunakan teknik yang terlihat sangat meyakkan, bahkan bisa meniru identitas lembaga resmi atau kerabat dekat. Maka dari itu, penting untuk memahami berbagai modus yang sering digunakan agar tidak mudah terjebak.
1. Penipuan Melalui Aplikasi Pesan dan Media Sosial
Data dari CekRekening.id mencatat bahwa sepanjang 2017 hingga Oktober 2025, aplikasi pesan menjadi kanal utama penipuan dengan total 396.691 laporan. Diikuti oleh media sosial dengan 281.050 laporan. Ini menunjukkan bahwa pelaku memanfaatkan platform yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Phishing dan Impersonasi Berbasis AI
Pelaku kini semakin canggih. Mereka tidak hanya mengirim pesan biasa, tapi juga menggunakan teknologi seperti AI untuk meniru suara atau wajah seseorang. Ini membuat korban lebih mudah percaya, terutama jika pesan datang dari sosok yang dikenal.
3. Tautan Palsu yang Terlihat Resmi
Tautan palsu sering kali dirancang sedemikian rupa sehingga tampak seperti situs resmi bank atau instansi pemerintah. Saat seseorang tidak waspada dan langsung mengklik, data pribadi seperti PIN, OTP, atau informasi rekening bisa langsung dicuri.
Tips Menghindari Penipuan Digital Saat THR Cair
Kampanye "Jangan Asal Klik" yang digagas oleh VIDA mengajak masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam berinteraksi dengan konten digital. Terutama saat THR sudah cair, risiko penipuan bisa meningkat karena banyak orang lebih aktif bertransaksi secara online.
1. Jangan Klik Tautan dari Sumber Tidak Dikenal
Salah satu langkah paling sederhana namun efektif adalah tidak langsung mengklik tautan dari nomor atau akun yang tidak dikenal. Apalagi jika tautan tersebut mengklaim ada hadiah, penalti, atau kegawatan mendesak.
2. Jangan Bagikan Kode OTP atau PIN
Kode OTP atau PIN adalah kunci utama keamanan akun. Jangan pernah membagikannya, meskipun pengirim mengaku sebagai pihak resmi. Ingat, bank atau lembaga keuangan tidak akan pernah meminta kode ini secara langsung.
3. Verifikasi Ulang Setiap Permintaan Transfer
Saat menerima pesan yang mengarah pada permintaan transfer, lakukan verifikasi secara langsung melalui telepon atau media lain. Jangan langsung percaya hanya karena pesan datang dari kontak yang biasa digunakan.
4. Waspadai File APK atau Dokumen Mencurigakan
File yang meminta instalasi aplikasi tambahan sering kali digunakan untuk menyebarkan malware. Jangan mudah mengunduh atau membuka file dari sumber yang tidak dapat dipercaya.
Peran Teknologi dalam Meningkatkan Keamanan Digital
Selain kesadaran individu, teknologi juga berperan penting dalam menjaga keamanan digital. VIDA sebagai penyedia layanan identitas digital menerapkan pendekatan multi-layer defense. Salah satunya dengan menggunakan FaceToken dan PhoneToken sebagai lapisan autentikasi tambahan.
Ini menjadikan sistem keamanan lebih kuat karena tidak hanya bergantung pada password. Dengan verifikasi biometrik dan perangkat, risiko account takeover bisa diminimalkan.
Data Kerugian Akibat Penipuan Digital
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kerugian akibat penipuan digital mencapai Rp9,1 triliun dari lebih dari 400 ribu laporan antara November 2024 hingga akhir 2025. Modusnya beragam, mulai dari phishing, investasi ilegal, hingga penyalahgunaan dokumen digital.
| Modus Penipuan | Jumlah Laporan | Kerugian Estimasi |
|---|---|---|
| Phishing | 135.000 | Rp2,8 triliun |
| Investasi Bodong | 110.000 | Rp2,1 triliun |
| Penyalahgunaan Dokumen Digital | 95.000 | Rp1,9 triliun |
| Impersonasi | 80.000 | Rp1,3 triliun |
| Lainnya | 80.000 | Rp1,0 triliun |
Disclaimer: Data di atas bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan kasus terkini.
Membangun Kebiasaan Digital yang Lebih Aman
Kampanye "Jangan Asal Klik" tidak hanya soal menghindari tautan mencurigakan. Ini juga tentang membentuk kebiasaan digital yang lebih sehat dan aman. Terutama di bulan Ramadan, menjaga keamanan data dan keuangan adalah bagian dari menjaga amanah.
Masyarakat diajak untuk mengadopsi prinsip "Stop, Cerna, Verifikasi, Baru Bertindak". Sebelum mengklik atau membagikan informasi, berhentilah sejenak. Cerna informasi yang diterima. Verifikasi kebenarannya. Baru kemudian ambil tindakan.
Kesadaran Digital sebagai Fondasi Keamanan
Chief Operating Officer VIDA, Victor Indajang, menegaskan bahwa kesadaran publik adalah fondasi utama keamanan digital. Edukasi harus dimulai dari diri sendiri, memahami tanda-tanda penipuan, dan menyadari risiko yang mungkin terjadi.
Generasi muda yang aktif di media sosial menjadi target utama kampanye ini. Dengan pendekatan yang ringan dan mudah dipahami, pesan "Jangan Asal Klik" diharapkan bisa menjangkau lebih banyak orang.
THR memang momen yang dinantikan banyak orang. Namun, kebahagiaan itu bisa berubah jadi kerugian besar jika tidak diimbangi dengan kewaspadaan. Dengan kebiasaan verifikasi dan edukasi yang tepat, masyarakat bisa menikmati THR tanpa khawatir terjebak penipuan digital.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.











