Multifinance

Harga Minyak Dunia Anjlok, Brent Naik Tajam 7% dan WTI Sentuh Level USD110 per Barel!

Bintang Fatih Wibawa
×

Harga Minyak Dunia Anjlok, Brent Naik Tajam 7% dan WTI Sentuh Level USD110 per Barel!

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak Dunia Anjlok, Brent Naik Tajam 7% dan WTI Sentuh Level USD110 per Barel!

Harga minyak dunia kembali menggelegak seusai pernyataan keras dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Brent dan WTI, dua jenis minyak mentah utama, mencatat lonjakan hingga dua digit dalam sehari. Lonjakan ini dipicu oleh ancaman serangan militer terhadap Iran, yang berpotensi mengganggu jalur pasokan energi global yang paling vital.

Selat Hormuz, jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, menjadi sorotan utama. Seperlima minyak dunia melewati selat ini setiap hari. Ketegangan yang meningkat antara AS dan Iran menciptakan ketidakpastian di pasar minyak, yang langsung bereaksi dengan lonjakan harga.

Lonjakan Harga Minyak Global

Minyak Brent yang berjangka Juni 2026 melonjak 7,6% mencapai USD108,82 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) melompat hingga 11,7%, menembus level USD111,84 per barel. Lonjakan ini terjadi dalam konteks ketidakpastian geopolitik yang tinggi, terutama terkait ancaman serangan militer dari AS ke Iran.

Investor langsung bereaksi terhadap pernyataan Trump yang menyebut bahwa operasi militer terhadap Iran akan dimulai dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Pernyataan itu menambah tekanan pada pasar minyak yang sebelumnya sempat tenang.

1. Ancaman Serangan Militer AS

Presiden Trump menyampaikan ancaman serangan militer terhadap Iran dalam pidato nasional. Ia menyebut bahwa AS akan “membawa mereka kembali ke zaman batu.” Pernyataan ini memperjelas bahwa ketegangan antara kedua negara belum mereda, meski sebelumnya ada isu gencatan senjata.

Trump juga menyebut bahwa AS memiliki “semua kartu” dalam konflik ini. Namun, ia tidak memberikan kejelasan apakah gencatan senjata akan tercapai dalam waktu dekat.

2. Iran Siapkan Protokol untuk Selat Hormuz

Iran mulai menyusun protokol bersama Oman untuk mengatur lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Langkah ini diumumkan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi. Protokol ini bukan untuk membatasi lalu lintas, melainkan untuk memastikan keamanan dan layanan kapal yang melintas.

Baca Juga:  Emas Global Tetap di Kisaran USD5.000/Ons, Apakah Ini Tanda Stabilitas Pasar?

Namun, langkah ini tetap dianggap sebagai indikasi bahwa Iran siap mengendalikan jalur strategis tersebut. AS menganggap langkah ini sebagai “tidak dapat diterima,” terutama karena Iran juga berencana memberlakukan tarif bagi kapal yang melewati selat tersebut.

Penurunan Sementara, Lalu Lonjakan Kembali

Harga minyak sempat turun setelah pernyataan Trump, karena investor berharap akan ada penyelesaian damai. Namun, harapan itu pupus ketika Iran membantah klaim bahwa mereka meminta gencatan senjata.

Ketidakjelasan ini membuat pasar kembali panik. Harga minyak langsung melonjak kembali, mendekati level tertinggi sesi sebelumnya.

3. Penolakan Iran atas Klaim Gencatan Senjata

Media pemerintah Iran membantah klaim bahwa Teheran meminta gencatan senjata dengan AS. Pernyataan ini menambah ketidakpastian di pasar. Investor kembali memperkirakan kemungkinan gangguan pasokan yang berkepanjangan.

Analisis dari UBS menyebut bahwa tanpa visibilitas mengenai pembukaan kembali jalur Hormuz, risiko kenaikan harga minyak dan gas masih tinggi dalam jangka pendek.

4. Prediksi Penurunan Persediaan Global

UBS memperkirakan bahwa persediaan minyak global telah turun ke rata-rata lima tahun terakhir pada akhir Maret 2026. Jika gangguan terus berlanjut, persediaan bisa turun di bawah titik terendah historis pada akhir April.

Bank tersebut juga memperkirakan bahwa harga minyak bisa melonjak melebihi USD150 per barel jika tidak ada perbaikan dalam jangka pendek.

Risiko Pasokan di Selat Hormuz

Selat Hormuz tetap menjadi titik kritis dalam rantai pasokan energi global. Jalur ini belum benar-benar dibuka, dan tidak ada indikasi kapan aliran minyak bisa kembali normal.

5. Data Persediaan Minyak AS

Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan peningkatan persediaan minyak mentah sebesar 5,5 juta barel pada pekan yang berakhir 27 Maret. Angka ini lebih tinggi dari ekspektasi pasar yang memperkirakan peningkatan moderat.

Baca Juga:  Mengapa Kebijakan Trump Picu Keresahan Pasar Minyak Global?

Namun, peningkatan ini tidak cukup untuk menahan lonjakan harga minyak yang dipicu oleh ketegangan geopolitik. Pasar tetap sensitif terhadap risiko gangguan pasokan.

Tabel Perbandingan Harga Minyak

Jenis Minyak Harga Sebelumnya Harga Setelah Lonjakan Persentase Lonjakan
Brent USD101,13 USD108,82 7,6%
WTI USD99,99 USD111,84 11,7%

Potensi Lonjakan Harga di Masa Depan

Jika ketegangan antara AS dan Iran terus berlanjut, harga minyak bisa melampaui USD150 per barel. Investor saat ini masih menunggu sinyal konkret dari kedua belah pihak terkait kemungkinan gencatan senjata.

UBS memperingatkan bahwa risiko kenaikan harga akan terus menghiasi pasar minyak dalam beberapa pekan ke depan. Terutama jika jalur Hormuz tetap terganggu.

6. Pengaruh Geopolitik terhadap Harga Minyak

Geopolitik menjadi faktor utama yang mendorong volatilitas harga minyak. Ketegangan antara AS dan Iran bukan hal baru, tapi intensitasnya yang meningkat membuat pasar kembali waspada.

Ancaman serangan militer, kebijakan tarif oleh Iran, dan ketidakjelasan gencatan senjata semuanya berkontribusi pada lonjakan harga minyak.

7. Respons Pasar Global

Investor global langsung bereaksi terhadap lonjakan harga minyak. Saham perusahaan energi naik tajam, sementara indeks saham secara umum mengalami tekanan. Mata uang negara penghasil minyak juga menguat terhadap dolar AS.

Lonjakan harga minyak juga berdampak pada harga bahan bakar dan produk turunan minyak lainnya. Ini akan berimbas pada biaya transportasi dan produksi di berbagai sektor industri.

Disclaimer

Data harga minyak dan perkiraan yang disebutkan dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik, kebijakan pemerintah, serta kondisi pasar global. Informasi ini disajikan berdasarkan data dan analisis terkini, namun tidak menjamin akurasi absolut di masa depan.

Baca Juga:  Mata Uang Dunia Goyah, Dolar AS Kembali Perkasa di Pasar Global!
Bintang Fatih Wibawa
Reporter at anakhiv.id

Bintang Fatih Wibawa merupakan penulis dan jurnalis yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Bintang berkomitmen menyajikan informasi keuangan yang akurat, faktual, dan bermanfaat bagi pembaca.