Kenaikan harga minyak mentah dunia yang dipicu oleh ketegangan geopolitik global tengah memberi tekanan besar pada perekonomian nasional. Apalagi, pelemahan nilai tukar rupiah dan kondisi fiskal yang semakin terbatas membuat ruang gerak kebijakan ekonomi makin sempit. Di tengah situasi ini, kebijakan tahan harga BBM menjadi salah satu upaya pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat.
Ilustrasi. Foto: Dok MI
Menurut analisis dari Board of Experts Prasasti Center for Policy Studies, jika harga minyak mentah berada di kisaran USD100 per barel dan nilai rupiah di posisi Rp17.000 per USD, defisit fiskal bisa melebar hingga 3,3–3,5 persen dari PDB. Angka ini sudah melampaui batas defisit yang selama ini dijaga pemerintah sebesar tiga persen. Kenaikan harga BBM, jika terjadi, diprediksi bisa menambah inflasi sebesar 0,7 hingga 1,8 poin persentase, tergantung pada besaran dan waktu penyesuaian.
Dampak Kenaikan Harga Minyak Dunia
1. Tekanan pada Fiskal Negara
Salah satu dampak langsung dari lonjakan harga minyak dunia adalah meningkatnya beban subsidi energi. Jika harga minyak mentah terus berada di level tinggi, pemerintah harus mengeluarkan anggaran lebih besar untuk menjaga harga BBM tetap stabil. Ini berpotensi memperlebar defisit anggaran dan menekan ruang fiskal untuk belanja publik.
2. Inflasi yang Terusik
Penyesuaian harga BBM, meski ditahan, tetap berpotensi mendorong laju inflasi. Dalam skenario tertentu, kenaikan harga energi bisa menambah inflasi hingga 1,8 poin persentase. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi Bank Indonesia dalam menjaga target inflasi tetap berada di kisaran 3 persen.
3. Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi
Ketika harga minyak dunia tinggi dalam jangka panjang, pertumbuhan ekonomi nasional juga terancam. Prasasti memperkirakan pertumbuhan ekonomi bisa turun ke kisaran 4,7–4,9 persen, di bawah rata-rata lima persen yang selama ini menjadi target. Ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada energi masih tinggi dan perlu segera diatasi dengan kebijakan jangka panjang.
Strategi Menjaga Daya Beli Masyarakat
1. Menahan Kenaikan Harga BBM
Langkah pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM adalah bentuk upaya menjaga daya beli masyarakat. Dengan harga energi yang terkendali, masyarakat kecil tidak terbebani biaya transportasi dan kebutuhan pokok lainnya yang bergantung pada energi. Namun, kebijakan ini hanya bersifat jangka pendek dan sangat bergantung pada stabilitas harga minyak global.
2. Koordinasi Melalui KSSK
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menjadi garda terdepan dalam menghadapi ketidakpastian global. Koordinasi lintas sektor ini penting untuk memastikan bahwa kebijakan energi tidak hanya fokus pada subsidi, tetapi juga mempertimbangkan dampak makro terhadap inflasi, fiskal, dan pertumbuhan ekonomi.
3. Kompensasi yang Tepat Sasaran
Kebijakan penahan harga BBM akan lebih efektif jika diimbangi dengan program kompensasi yang tepat sasaran. Ini penting agar bantuan tidak bocor dan benar-benar menjangkau masyarakat yang membutuhkan. Program seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) atau insentif energi alternatif bisa menjadi solusi jangka menengah.
Tantangan Jangka Panjang
Ilustrasi. Foto: Freepik
1. Gangguan Pasokan Energi
Eskalasi ketegangan geopolitik berpotensi mengganggu pasokan energi global. Gangguan ini bisa berdampak langsung pada ketersediaan BBM dan bahan bakar industri. Jika hal ini terjadi, biaya produksi akan meningkat dan produktivitas sektor manufaktur bisa terganggu.
2. Ketergantungan pada Energi Fosil
Indonesia masih sangat bergantung pada energi fosil, terutama minyak dan gas. Kebijakan tahan harga BBM hanya merupakan solusi sementara. Dalam jangka panjang, negara perlu beralih ke energi terbarukan agar tidak terus terpapar volatilitas harga minyak dunia.
3. Perlunya Reformulasi Subsidi
Subsidi energi yang selama ini dinikmati konsumen, terutama golongan menengah ke atas, perlu direformasi. Subsidi sebaiknya dialihkan ke kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan, sambil mendorong efisiensi penggunaan energi dan pengembangan teknologi bersih.
Perbandingan Skenario Harga BBM
Berikut adalah perbandingan dampak dari dua skenario kebijakan harga BBM:
| Skenario | Harga BBM | Dampak Inflasi | Defisit Fiskal | Pertumbuhan Ekonomi |
|---|---|---|---|---|
| Tahan harga | Stabil | 0,7–1,0% | 3,3–3,5% dari PDB | 4,7–4,9% |
| Sesuaikan harga | Naik 15–20% | 1,2–1,8% | 2,5–3,0% dari PDB | 5,0–5,2% |
Catatan: Data bersifat estimasi dan dapat berubah tergantung perkembangan harga minyak global dan kebijakan domestik.
Kesimpulan
Kebijakan tahan harga BBM adalah langkah antisipatif untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian global. Namun, kebijakan ini tidak bisa diandalkan dalam jangka panjang. Pemerintah harus segera mempercepat transisi energi, mereformasi subsidi, dan memperkuat koordinasi kebijakan melalui KSSK agar ekonomi nasional tetap stabil dan berkelanjutan.
Disclaimer: Data dan estimasi dalam artikel ini bersifat prediktif dan dapat berubah sesuai perkembangan harga minyak mentah global serta kebijakan pemerintah ke depan.
Bintang Fatih Wibawa merupakan penulis dan jurnalis yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Bintang berkomitmen menyajikan informasi keuangan yang akurat, faktual, dan bermanfaat bagi pembaca.












