Multifinance

Rupiah Menguat Tipis Usai Libur Lebaran, Dibuka di Level Rp16.895!

Muhammad Rizal Veto
×

Rupiah Menguat Tipis Usai Libur Lebaran, Dibuka di Level Rp16.895!

Sebarkan artikel ini
Rupiah Menguat Tipis Usai Libur Lebaran, Dibuka di Level Rp16.895!

Rupiah dibuka menguat tipis seusai libur panjang Hari Raya Idulfitri. Pada perdagangan Rabu, 25 Maret 2026, nilai tukar mata uang Garuda terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp16.895 per USD. Angka ini naik sedikit dari posisi penutupan sebelumnya di Rp16.897,5 per USD, atau menguat 2,5 poin (0,01 persen).

Meski begitu, penguatan ini terbilang sangat terbatas. Pasar masih menanti sentimen eksternal yang lebih kuat untuk mendorong rupiah ke level yang lebih baik. Investor tampaknya masih waspada terhadap sejumlah faktor global yang berpotensi mengganggu stabilitas keuangan dunia.

Dinamika Global yang Mempengaruhi Rupiah

Pergerakan rupiah hari ini tidak lepas dari situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Salah satu faktor utama yang menyita perhatian adalah gangguan pengiriman minyak mentah di Selat Hormuz. Wilayah tersebut menjadi jalur penting bagi distribusi energi global, dan ketegangan antara AS, Israel, dan Iran semakin memanas.

1. Ketegangan di Selat Hormuz

Perang yang berlangsung selama tiga minggu tanpa tanda-tanda gencatan senjata ini memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Brent crude oil naik hingga 33 persen, sementara crude oil naik sekitar 37 persen sejak sebelum konflik meletus.

Iran membatasi akses kapal yang terafiliasi dengan AS dan Israel, sementara kapal lain tetap diperbolehkan melintas. Namun, pembatasan ini tetap berdampak pada aliran minyak global, yang pada akhirnya memicu kenaikan harga energi secara keseluruhan.

2. Respons Dunia Internasional

Presiden AS Donald Trump telah meminta bantuan negara-negara NATO untuk menyelesaikan situasi di Selat Hormuz. Namun, hingga saat ini, jalur penting tersebut masih mengalami gangguan. Ketidakpastian ini membuat investor cenderung menahan diri, menunggu perkembangan lebih lanjut.

Baca Juga:  Harga Minyak Melonjak Tajam, Brent Tembus USD111/Barel!

Kebijakan Domestik yang Menopang Stabilitas

Di tengah gejolak global, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) berupaya menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri. Langkah-langkah kebijakan fiskal dan moneter terus disesuaikan agar defisit anggaran tidak melonjak dan inflasi tetap terkendali.

1. Upaya Menjaga Defisit di Bawah 3 Persen

Sebelumnya, pemerintah sempat memperkirakan defisit anggaran bisa mencapai di atas 4 persen. Namun, setelah evaluasi ulang, kebijakan dibuat untuk memangkas pengeluaran yang tidak esensial. Tujuannya jelas: menjaga defisit tetap di bawah ambang batas 3 persen.

Langkah ini penting untuk menjaga kepercayaan investor dan kredibilitas fiskal Indonesia di mata dunia internasional. Penghematan anggaran ini juga diharapkan mampu mengurangi tekanan pada nilai tukar rupiah.

2. BI Pertahankan Suku Bunga Acuan

Bank Indonesia memutuskan untuk tidak mengubah BI Rate yang tetap berada di level 4,75 persen. Suku bunga penyetoran (deposit facility) pun dipertahankan di 3,75 persen, sementara lending rate tetap di 5,50 persen.

Keputusan ini diambil sebagai antisipasi terhadap ketidakpastian global. BI ingin menjaga stabilitas harga, terutama dengan target inflasi 2 persen di tahun 2026. Selain itu, suku bunga yang tinggi diharapkan bisa menarik investor asing dan menopang nilai rupiah.

Proyeksi Pergerakan Rupiah

Melihat situasi saat ini, analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan mengalami fluktuasi cukup besar. Dalam jangka pendek, rupiah berpotensi melemah ke kisaran Rp16.990 hingga Rp17.075 per USD.

1. Intervensi Bank Indonesia

BI diperkirakan akan terus melakukan intervensi di pasar spot, terutama melalui transaksi di DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward). Langkah ini penting untuk mengurangi volatilitas rupiah di tengah ketegangan global.

2. Potensi Pelemahan di Masa Depan

Jika ketegangan di Selat Hormuz berlarut-larut dan harga minyak terus naik, rupiah berisiko melemah lebih dalam. Bahkan, Ibrahim memperkirakan rupiah bisa menyentuh level di atas Rp17.000 dalam beberapa pekan ke depan.

Baca Juga:  APBN Disiapkan Jadi Penahan Guncangan Konflik Timur Tengah, Ini Kata Airlangga!

Tabel Perbandingan Kurs Rupiah

Berikut adalah perbandingan kurs rupiah terhadap dolar AS berdasarkan berbagai sumber data:

Sumber Data Kurs (Rp per USD) Waktu Pemantauan
Bloomberg 16.895 Pukul 09.57 WIB
Yahoo Finance 16.978 Pukul 09.57 WIB
Prediksi (Ibrahim) 16.990 – 17.075 Perdagangan hari ini

Disclaimer

Data kurs dan prediksi di atas bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi global dan kebijakan Bank Indonesia. Informasi ini hanya sebagai referensi dan bukan sebagai saran investasi.

Kesimpulan

Rupiah dibuka menguat tipis seusai libur Lebaran, namun tekanan dari luar tetap terasa. Ketegangan di Selat Hormuz dan lonjakan harga minyak dunia menjadi tantangan utama. Di sisi dalam, pemerintah dan BI berupaya menjaga stabilitas melalui pengelolaan defisit dan kebijakan suku bunga. Meski demikian, investor tetap perlu waspada terhadap potensi pelemahan rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Muhammad Rizal Veto
Reporter at anakhiv.id

Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.