Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat suara terkait tekanan yang sedang dialami rupiah. Pelemahan nilai tukar yang menyentuh level Rp17.000 per dolar AS memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar. Namun, Purbaya menegaskan bahwa kondisi ekonomi dalam negeri tetap terjaga dan tidak perlu terjebak pada narasi negatif yang berpotensi memicu panic buying atau selling.
Menurutnya, situasi saat ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Pemerintah telah melalui berbagai fase krisis ekonomi sebelumnya dan terus belajar dalam merancang kebijakan yang adaptif. Ia juga menyoroti bahwa beberapa pihak memanfaatkan situasi untuk menciptakan gejolak, baik secara ekonomi maupun psikologis. Maka dari itu, penting untuk menjaga stabilitas dan tidak mudah terpancing.
Rupiah Melemah, IHSG Terusik
Pergerakan rupiah akhir-akhir ini memang cukup fluktuatif. Pada perdagangan Senin (9/3/2026), nilai tukar rupiah tercatat melemah 24 poin atau sekitar 0,14 persen. Penutupan terjadi di level Rp16.949 per USD, setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi harian di angka Rp17.019 per USD.
1. Data Pergerakan Rupiah Hari Ini
| Sumber Data | Level Rupiah per USD | Perubahan (Poin) | Persentase |
|---|---|---|---|
| Bloomberg | Rp16.949 | -24 | -0,14% |
| Yahoo Finance | Rp16.935 | -21 | -0,12% |
| Jisdor | Rp16.974 | -55 | -0,32% |
Meski terlihat melemah, catatan year to date (YTD) rupiah masih menunjukkan kenaikan sebesar 1,61 persen. Artinya, secara keseluruhan sepanjang tahun ini, mata uang Garuda belum benar-benar terpuruk.
2. IHSG Ambruk di Zona Merah
Tak hanya rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga terusik. Pada perdagangan yang sama, IHSG ditutup di level 7.337,369, turun tajam sebesar 248,318 poin atau 3,27 persen. Pergerakan pasar sepanjang hari memang cenderung negatif, dengan indeks langsung masuk ke zona merah sejak awal sesi perdagangan.
Penyebab Tekanan pada Rupiah dan Pasar Modal
Ada beberapa faktor yang menyebabkan tekanan pada rupiah dan pasar modal domestik. Di antaranya adalah sentimen global yang masih terpengaruh oleh ketidakpastian ekonomi dunia, serta pernyataan dari sejumlah ekonom yang menyebut Indonesia berada di ambang resesi.
3. Faktor Global yang Mempengaruhi
- Kebijakan moneter global – Kenaikan suku bunga di negara maju, khususnya AS, membuat investor lebih memilih aset berdenominasi dolar.
- Sentimen investor terhadap emerging market – Indonesia sebagai bagian dari emerging market rentan terhadap perubahan arus modal global.
- Ketidakpastian geopolitik – Konflik regional dan global juga berdampak pada performa pasar keuangan.
4. Narasi Resesi yang Memperburuk Situasi
Beberapa ekonom lokal sempat mengeluarkan pernyataan bahwa ekonomi Indonesia sedang berada di ambang resesi. Pernyataan semacam ini, meski mungkin didasari oleh data tertentu, bisa memicu overreaction dari pelaku pasar. Purbaya menilai bahwa ini adalah bagian dari strategi untuk menciptakan gejolak.
Respons Pemerintah: Menjaga Stabilitas dan Kepercayaan
Pemerintah tidak tinggal diam menghadapi tekanan ini. Sejumlah langkah telah diambil untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan membangun kepercayaan pasar.
5. Kebijakan yang Diambil Pemerintah
- Intervensi pasar valas – Bank Indonesia terus melakukan intervensi untuk menjaga fluktuasi rupiah tetap terkendali.
- Kebijakan fiskal yang responsif – Pemerintah menyesuaikan anggaran untuk menopang sektor-sektor strategis.
- Komunikasi publik yang transparan – Purbaya dan jajaran terus memberikan narasi yang menenangkan agar tidak terjadi overreact di pasar.
Tips untuk Pelaku Pasar di Tengah Volatilitas
Bagi pelaku pasar, kondisi seperti ini bisa menjadi tantangan sekaligus peluang. Yang penting adalah tetap waspada dan tidak mudah terjebak emosi.
6. Strategi Menghadapi Tekanan Pasar
- Jangan panik – Volatilitas adalah hal biasa di pasar keuangan. Yang penting adalah tetap tenang dan tidak terjebak short-term noise.
- Diversifikasi portofolio – Jangan terlalu fokus pada satu aset. Sebarkan risiko untuk mengurangi dampak kerugian.
- Pantau data makro ekonomi – Data fundamental seperti inflasi, suku bunga, dan defisit anggaran sangat penting untuk memprediksi arah kebijakan.
Penilaian Ekonomi Domestik Masih Positif
Purbaya menegaskan bahwa aktivitas ekonomi dalam negeri masih berada di fase ekspansif. Meskipun ada tekanan dari luar, pemerintah terus memastikan bahwa sektor riil tetap tumbuh dan daya beli masyarakat tidak tergerus secara signifikan.
7. Indikator Ekonomi yang Mendukung
- Pertumbuhan UMR yang terkendali – Upah minimum masih naik secara proporsional.
- Stabilitas inflasi – Bank Indonesia berhasil menjaga inflasi tetap di kisaran target.
- Investasi infrastruktur yang terus berjalan – Proyek-proyek strategis nasional tetap berlanjut, mendorong multiplier effect.
Disclaimer
Data dan kondisi pasar keuangan bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu. Angka yang disebutkan dalam artikel ini adalah data terkini berdasarkan sumber terpercaya pada tanggal 9 Maret 2026. Pembaca disarankan untuk selalu memperbarui informasi dan berkonsultasi dengan ahli sebelum mengambil keputusan investasi.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.











