Multifinance

Mengapa Bank Sentral Jepang Pertahankan Suku Bunga di Level 0,75%?

Nurkasmini Nikmawati
×

Mengapa Bank Sentral Jepang Pertahankan Suku Bunga di Level 0,75%?

Sebarkan artikel ini
Mengapa Bank Sentral Jepang Pertahankan Suku Bunga di Level 0,75%?

Bank of Japan (BoJ) memilih untuk tidak mengubah suku bunga acuan dalam pertemuan kebijakan terbarunya. Suku bunga tetap berada di level 0,75 persen, keputusan yang sejalan dengan ekspektasi mayoritas analis pasar keuangan global. Langkah ini menunjukkan bahwa bank sentral Jepang masih menunggu sinyal yang lebih kuat sebelum melakukan pengetatan kebijakan moneter.

Pilihan untuk tidak menaikkan suku bunga kali ini bukan tanpa alasan. Meski ada anggota dewan yang mendorong kenaikan, mayoritas tetap memilih untuk menahan langkah. Alasannya? Pemulihan ekonomi Jepang masih dianggap belum stabil sepenuhnya, meskipun inflasi mulai menunjukkan tanda-tanda kenaikan.

Penjelasan Keputusan Bank Sentral Jepang

1. Hasil Voting Dewan BoJ

Dalam rapat yang digelar pada 19 Maret 2026, Bank of Japan melakukan voting internal. Hasilnya menunjukkan bahwa dari total sembilan anggota dewan, delapan memilih untuk mempertahankan suku bunga di 0,75 persen. Hanya satu suara yang berbeda, yaitu dari Hajime Takata, yang mengusulkan kenaikan ke level 1,0 persen.

Takata beralasan bahwa target inflasi 2 persen sudah hampir tercapai. Ia juga memperingatkan bahwa tekanan dari harga global bisa memicu lonjakan inflasi lebih lanjut. Namun, pandangan ini tidak didukung mayoritas dewan.

2. Kondisi Ekonomi Domestik

Perekonomian Jepang masih dalam fase pemulihan yang perlahan. Pertumbuhan ekonomi dinilai moderat, tanpa lonjakan besar yang bisa dijadikan dasar untuk menaikkan suku bunga. Inflasi memang mulai naik, tetapi belum stabil di atas target 2 persen secara konsisten.

BoJ juga mencatat bahwa upah di Jepang mulai mengalami peningkatan. Kenaikan ini sejalan dengan tren kenaikan harga barang dan jasa. Namun, belum cukup kuat untuk memaksa bank sentral mengubah arah kebijakan.

3. Ketidakpastian Global

Salah satu faktor utama yang membuat BoJ waspada adalah situasi geopolitik global. Konflik di Timur Tengah, khususnya eskalasi antara Iran dan Israel, berpotensi memicu lonjakan harga minyak mentah. Ini bisa memperburuk tekanan inflasi di dalam negeri.

Baca Juga:  Harga Minyak Dunia Melonjak, Ini Dampaknya bagi Perekonomian Indonesia dan Jadwal Baru BCA!

Selain itu, nilai tukar yen juga menjadi perhatian. Fluktuasi nilai mata uang ini bisa memengaruhi daya beli konsumen dan biaya impor, yang pada akhirnya berdampak pada stabilitas harga secara keseluruhan.

Dampak Terhadap Pasar Keuangan

4. Pergerakan Pasangan Mata Uang USD/JPY

Setelah pengumuman BoJ, dolar AS menguat terhadap yen. Pasangan mata uang USD/JPY langsung mendekati level 159,00. Pergerakan ini menunjukkan bahwa investor masih melihat yen sebagai aset yang kurang menarik di tengah kebijakan moneter yang tetap longgar.

Dari sisi teknikal, tren penguatan dolar masih terlihat. Harga bertahan di atas rata-rata pergerakan 50 dan 100 periode, menandakan bahwa permintaan pasar masih tinggi. Indikator RSI juga berada di area netral, menunjukkan bahwa tren bullish belum kehilangan momentum.

5. Level Tekanan dan Target Selanjutnya

Berikut adalah rincian level penting yang perlu diperhatikan dalam pergerakan USD/JPY:

Level Deskripsi
157,99 Support kuat. Jika tembus, bisa turun ke 156,89
158,71 Support awal. Menjadi penyangga pergerakan
159,00 Level saat ini setelah pengumuman BoJ
159,75 Resistance utama. Jika tembus, bisa lanjut ke 160
160,00 Target bullish jangka pendek

Struktur tren naik masih terjaga selama harga tidak menembus level 157,99. Namun, jika resistance di 159,75 berhasil ditembus, maka peluang penguatan ke level 160 sangat terbuka.

Faktor yang Akan Mempengaruhi Kebijakan Ke Depannya

6. Inflasi Inti dan Pergerakan Harga Energi

BoJ memperkirakan inflasi inti akan mengalami fluktuasi di kisaran 2 persen. Kenaikan harga energi global menjadi salah satu pendorong utama. Namun, jika harga minyak mentah stabil, tekanan inflasi bisa berkurang.

7. Perkembangan Upah dan Daya Beli

Salah satu indikator penting yang diawasi BoJ adalah tren kenaikan upah. Jika upah terus naik seiring dengan harga, maka inflasi bisa menjadi lebih berkelanjutan. Ini akan memperkuat argumen untuk pengetatan kebijakan di masa depan.

Baca Juga:  Emas Dunia Kembali Bersinar Cerah!

8. Stabilitas Geopolitik dan Pasar Global

Ketidakpastian global tetap menjadi faktor penekan. Perkembangan konflik di luar negeri, pergerakan harga komoditas, dan volatilitas pasar keuangan dunia akan terus menjadi sorotan. Semua ini bisa memaksa BoJ untuk menunda langkah pengetatan lebih lanjut.

Kesimpulan

Bank of Japan memilih untuk tidak mengubah suku bunga, meski ada tekanan dari dalam dan luar negeri. Keputusan ini mencerminkan pendekatan hati-hati bank sentral dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi harga. Investor pun merespons dengan penguatan dolar terhadap yen, menandakan bahwa pasar masih melihat BoJ sebagai bank sentral yang relatif konservatif.

Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi terkini dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi global dan kebijakan moneter.

Nurkasmini Nikmawati
Reporter at anakhiv.id

Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.