Multifinance

Dolar AS Terpuruk Akibat Ketegangan Timur Tengah dan Kebijakan Moneter The Fed yang Mengagetkan!

Erna Agnesa
×

Dolar AS Terpuruk Akibat Ketegangan Timur Tengah dan Kebijakan Moneter The Fed yang Mengagetkan!

Sebarkan artikel ini
Dolar AS Terpuruk Akibat Ketegangan Timur Tengah dan Kebijakan Moneter The Fed yang Mengagetkan!

Dolar AS mengalami tekanan pada pertengahan Maret 2026, meski sebelumnya sempat menunjukkan penguatan. Pelemahan ini terjadi seiring dengan ketidakpastian global yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah dan keputusan kebijakan moneter dari The Fed yang dinilai netral.

Pergerakan nilai tukar dolar juga dipengaruhi oleh lonjakan harga minyak akibat serangan terhadap fasilitas energi di Iran. Investor mulai mempertimbangkan dampak jangka panjang dari ketegangan geopolitik terhadap stabilitas ekonomi global. Di tengah situasi ini, dolar yang biasanya diandalkan sebagai aset aman justru mulai terlihat kurang menarik.

Konflik Timur Tengah dan Dampaknya pada Pasar Global

Ketegangan di kawasan Teluk Persia kembali memanas setelah serangan terhadap ladang gas South Pars milik Iran. Serangan tersebut memicu respons cepat dari Teheran yang menargetkan sejumlah lokasi di negara-negara Teluk, termasuk Qatar dan Arab Saudi. Situasi ini memicu lonjakan harga energi dan memperbesar risiko inflasi global.

1. Serangan ke South Pars dan Respons Iran

Iran melancarkan serangan balasan usai fasilitas energi utamanya diserang. South Pars merupakan bagian dari deposit gas alam terbesar di dunia, sehingga gangguan di sana langsung berdampak pada pasokan energi global. Harga minyak langsung melonjak, memicu tekanan pada mata uang negara-negara pengimpor minyak.

2. Pernyataan Netanyahu soal Kemenangan atas Iran

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa negaranya bertindak sendiri dalam operasi tersebut. Ia juga mengklaim bahwa Iran kini tidak lagi memiliki kemampuan memperkaya uranium atau memproduksi rudal balistik. Pernyataannya ini sempat membuat harga minyak berbalik arah, karena pasar berekspektasi konflik tidak akan meluas.

Kebijakan The Fed dan Sentimen Pasar

Federal Reserve memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 5,25%-5,50% pada pertemuan Maret 2026. Keputusan ini sejalan dengan ekspektasi pasar, namun tetap meninggalkan banyak pertanyaan terkait proyeksi inflasi dan pertumbuhan ekonomi AS di tengah ketidakpastian global.

Baca Juga:  Rupiah Melemah Tipis di Awal Pekan, Sentuh Level Rp16.984!

1. Inflasi Diproyeksikan Naik karena Lonjakan Harga Energi

Grafik proyeksi terbaru Fed menunjukkan bahwa inflasi AS di tahun 2026 diperkirakan akan lebih tinggi dari estimasi sebelumnya. Lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong proyeksi ini. Namun, Ketua Fed Jerome Powell menyatakan bahwa dampak jangka panjang masih belum jelas.

2. Ketidakpastian Dominasi Pernyataan Powell

Dalam konferensi pers, Powell beberapa kali menyampaikan ketidakpastiannya terhadap situasi saat ini. Ia menyebut bahwa ini mungkin merupakan putaran proyeksi yang lebih baik untuk dilewati tanpa penulisan Ringkasan Proyeksi Ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa bank sentral masih menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum mengambil langkah tegas.

3. Suku Bunga Tetap, Namun Ancaman Inflasi Tetap Mengintai

Powell juga menyampaikan bahwa kenaikan suku bunga masih terbuka, meski bukan skenario utama. Ini menunjukkan bahwa The Fed tetap waspada terhadap tekanan inflasi, terutama dari sektor energi yang sangat volatil akhir-akhir ini.

Respons Bank Sentral Global

Tidak hanya The Fed, bank sentral lain di Eropa dan Inggris juga memilih untuk tidak mengubah suku bunga. Mereka sama-sama menghadapi dilema antara menjaga stabilitas ekonomi dan mengantisipasi dampak dari gejolak global.

1. ECB dan BoE Pertahankan Suku Bunga

Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of England (BoE) mempertahankan suku bunga utama pada level yang sama. Keduanya menyatakan bahwa dampak dari konflik Timur Tengah terhadap inflasi dan pertumbuhan masih terlalu awal untuk diprediksi secara akurat.

2. BoE Soroti Dampak pada Biaya Rumah Tangga

BoE memperingatkan bahwa lonjalan harga minyak akan berdampak langsung pada biaya bahan bakar dan utilitas rumah tangga. Ini akan memperbesar tekanan pada pengeluaran konsumen serta memicu kenaikan harga barang dan jasa secara umum.

Baca Juga:  Apakah Wall Street Akan Terus Anjlok? Ini Kata Para Ahli!

3. Bank of Japan Hadapi Tekanan Inflasi Energi

Bank of Japan (BoJ) juga memilih untuk tidak menaikkan suku bunga. Namun, hanya satu dari sembilan anggota dewan yang menentang keputusan ini dan menyarankan kenaikan sebesar 25 basis poin. Jepang yang sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah, rentan terhadap kenaikan harga minyak.

Pergerakan Mata Uang Utama

Dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama. Investor mencari alternatif investasi yang lebih stabil di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi.

1. Euro dan Pound Menguat

EUR/USD naik 1,2% menjadi 1,1586, sedangkan GBP/USD naik 1,3% ke level 1,3429. Kenaikan ini menunjukkan bahwa investor mulai memindahkan dana ke mata uang Eropa dan Inggris yang dianggap lebih stabil dalam jangka pendek.

2. Yen Jepang Melemah

USD/JPY turun 1,3% ke level 157,67. Meski BoJ tidak menaikkan suku bunga, tekanan dari kenaikan harga energi membuat yen tetap tertekan.

Tabel Pergerakan Mata Uang dan Suku Bunga Utama

Mata Uang Pergerakan (%) Level Terakhir Catatan
EUR/USD +1,2% 1,1586 ECB tetap netral
GBP/USD +1,3% 1,3429 BoE waspada inflasi
USD/JPY -1,3% 157,67 BoJ tetap menahan suku bunga
DXY Index -0,9% 99,20 Indeks dolar melemah
Bank Sentral Suku Bunga (%) Keputusan Catatan
The Fed 5,25%-5,50% Tetap Waspadai inflasi energi
ECB 4,50% Tetap Dampak konflik belum jelas
BoE 5,25% Tetap Harga minyak tekan inflasi
BoJ -0,10% Tetap Mayoritas dewan menahan diri

Disclaimer

Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terkini hingga Maret 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global. Keputusan investasi sebaiknya selalu didasarkan pada analisis menyeluruh dan konsultasi dengan ahli keuangan.

Baca Juga:  Mengapa Bank Sentral Jepang Pertahankan Suku Bunga di Level 0,75%?
Erna Agnesa
Reporter at anakhiv.id

Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.