Ilustrasi. Foto: Freepik.
Dolar AS tetap berada di zona aman pada perdagangan Kamis, 26 Maret 2026, sementara sebagian besar mata uang Asia bergerak datar atau melemah tipis. Investor tampaknya masih menahan diri dari mengambil posisi besar, karena sentimen pasar masih dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Sentimen ini muncul seiring dengan kabar bahwa Iran tengah meninjau proposal perdamaian dari Amerika Serikat. Meski belum ada keputusan resmi, ketidakjelasan ini membuat pasar tetap waspada. Dolar pun tetap menjadi pilihan utama investor sebagai aset aman.
Dolar AS Tetap Kuat di Tengah Sentimen Geopolitik
Indeks Dolar AS (DXY) bergerak datar sepanjang sesi Asia, setelah sebelumnya mengalami dua hari kenaikan berturut-turut. Permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar dan obligasi pemerintah AS tetap tinggi, terutama di tengah ketidakpastian global.
Kontrak berjangka dolar juga menunjukkan sedikit perubahan, mencerminkan bahwa investor masih menunggu sinyal yang lebih kuat dari perkembangan di kawasan Timur Tengah. Investor tampaknya enggan mengambil risiko besar sampai ada kejelasan lebih lanjut.
1. Iran Tinjau Proposal Perdamaian AS
Iran mengatakan sedang meninjau proposal perdamaian yang diajukan AS. Namun, mereka belum secara resmi menerima atau menolaknya. Pernyataan ini menciptakan ekspektasi yang hati-hati, karena pasar sangat sensitif terhadap isu geopolitik yang bisa memengaruhi aliran energi global.
2. Perbedaan Pandangan Masih Ada
Iran secara terbuka membantah adanya negosiasi langsung dengan Washington. Mereka juga menegaskan bahwa masih ada perbedaan utama dalam pembahasan. Ketidakterbukaan ini menimbulkan spekulasi di kalangan investor, yang akhirnya memilih untuk menahan diri dari keputusan investasi besar.
3. Harga Minyak Masih Tinggi
Harga minyak Brent tetap berada di atas USD100 per barel. Meskipun sedikit turun dari level tertinggi baru-baru ini, harga yang tinggi ini tetap menjadi tekanan inflasi global. Ini berdampak pada mata uang negara-negara pengimpor minyak, termasuk sebagian besar negara Asia.
Mata Uang Asia Melemah di Bawah Tekanan
Sentimen yang lemah dan permintaan terhadap dolar membuat sebagian besar mata uang Asia tidak mampu menunjukkan performa positif. Banyak pasangan mata uang regional bergerak datar atau bahkan melemah tipis.
1. Yen Jepang (USD/JPY)
Pasangan USD/JPY bergerak datar sepanjang sesi. Investor tampaknya enggan mengambil posisi besar karena masih menunggu perkembangan lebih lanjut dari Iran dan AS.
2. Won Korea Selatan (USD/KRW)
Won melemah tipis terhadap dolar, naik 0,1 persen menjadi USD/KRW 1.345. Tekanan terhadap won terus berlanjut karena ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi dalam jangka panjang.
3. Rupee India (USD/INR)
Rupee mengalami tekanan, naik 0,3 persen menjadi 94,15 rupee. Ini mendekati level tertinggi sebelumnya di 94,20. India sebagai pengimpor minyak besar sangat rentan terhadap kenaikan harga energi global.
4. Yuan Tiongkok (USD/CNY)
Yuan bergerak lesu sepanjang perdagangan. Bank Sentral Tiongkok tampaknya masih mempertahankan kebijakan yang ketat untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
5. Dolar Singapura (USD/SGD)
Dolar Singapura naik tipis 0,1 persen. SGD cenderung stabil karena Singapura memiliki cadangan devisa yang kuat dan ekonomi yang tergolong tahan banting.
6. Dolar Australia (AUD/USD)
AUD/USD naik sangat tipis sebesar 0,1 persen. Australia sebagai eksportir komoditas besar masih dipengaruhi oleh harga komoditas global yang fluktuatif.
Faktor Lain yang Mempengaruhi Pergerakan Valas
Selain ketidakpastian geopolitik, ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS juga menjadi faktor utama yang menopang dolar. Investor memperkirakan bahwa Federal Reserve mungkin akan mempertahankan suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka panjang.
1. Suku Bunga AS yang Lebih Tinggi
Tarif bunga yang tinggi cenderung menarik aliran modal asing ke AS. Ini memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk negara-negara Asia.
2. Permintaan Aset Safe Haven
Dolar dan obligasi pemerintah AS tetap menjadi pilihan utama investor saat ketidakpastian global meningkat. Ini memperkuat dolar secara konsisten.
3. Risiko Inflasi Global
Harga minyak yang tinggi dan gangguan pasokan energi global terus memicu risiko inflasi. Negara pengimpor minyak seperti India, Jepang, dan Korea Selatan menjadi lebih rentan terhadap tekanan ini.
Perbandingan Performa Mata Uang Asia Terhadap Dolar AS
Berikut adalah rincian pergerakan beberapa pasangan mata uang Asia terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis, 26 Maret 2026:
| Mata Uang | Pergerakan (%) | Kurs Terkini |
|---|---|---|
| JPY (Yen) | Datar | 151.20 |
| KRW (Won) | +0,1% | 1.345,00 |
| INR (Rupee) | +0,3% | 94,15 |
| CNY (Yuan) | Lesu | 7,245 |
| SGD (Dolar S’pura) | +0,1% | 1,350 |
| AUD (Dolar Aussie) | +0,1% | 0,670 |
Catatan: Data di atas bersifat simulasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pasar.
Kesimpulan
Dolar AS tetap menunjukkan kekuatan di tengah ketidakpastian geopolitik dan harga energi yang tinggi. Sebaliknya, sebagian besar mata uang Asia mengalami tekanan karena ketergantungan pada impor minyak dan ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi.
Investor tampaknya masih menunggu perkembangan lebih lanjut dari negosiasi perdamaian di Timur Tengah sebelum mengambil langkah investasi yang lebih besar. Sampai ada kejelasan, dolar diprediksi akan tetap menjadi favorit di pasar valuta asing global.
Disclaimer: Data dan kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu. Artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan sebagai saran investasi.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.











