Multifinance

Inflasi Maret 2026 Malah Turun ke 0,41%, Meski Ramadan dan Lebaran Sudah Datang!

Muhammad Rizal Veto
×

Inflasi Maret 2026 Malah Turun ke 0,41%, Meski Ramadan dan Lebaran Sudah Datang!

Sebarkan artikel ini
Inflasi Maret 2026 Malah Turun ke 0,41%, Meski Ramadan dan Lebaran Sudah Datang!

Badan Pusat Statistik mencatat bahwa inflasi Maret 2026 justru mengalami penurunan menjadi 0,41 persen secara bulanan. Angka ini lebih rendah dibanding Februari 2026 yang mencatat 0,68 persen, dan jauh lebih rendah dibanding Maret 2025 yang sempat mencapai 1,65 persen.

Padahal, Maret merupakan bulan yang biasanya identik dengan lonjakan harga menjelang Ramadan dan Lebaran. Fakta ini mengejutkan, sekaligus menunjukkan bahwa tekanan inflasi tahun ini cukup terkendali meski ada lonjakan permintaan menjelang momen religius terbesar dalam setahun.

Penyebab dan Komponen Inflasi Maret 2026

Penurunan inflasi ini tidak serta merta berarti harga-harga secara umum turun. Inflasi tetap terjadi, hanya saja lajunya lebih rendah dari biasanya. Untuk memahami fenomena ini lebih dalam, mari kita telusuri penyebab dan komponen yang berperan dalam angka tersebut.

1. Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau Jadi Penyumbang Utama

Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar di Maret 2026, dengan kontribusi sebesar 0,32 persen. Inflasi pada kelompok ini mencapai 1,07 persen.

Komoditas yang paling berpengaruh antara lain:

  • Ikan segar
  • Daging ayam ras
  • Beras
  • Telur ayam ras
  • Cabai rawit
  • Minyak goreng
  • Daging sapi

Kenaikan harga pada komoditas ini umum terjadi menjelang Ramadan karena lonjakan permintaan. Namun, kenaikan yang terjadi tahun ini relatif lebih terkendali dibanding tahun-tahun sebelumnya.

2. Komponen Inti dan Harga yang Diatur Pemerintah Turut Berperan

Selain kelompok makanan, komponen inti juga memberikan andil inflasi sebesar 0,08 persen. Komoditas utama yang menyebabkan kenaikan adalah minyak goreng dan nasi dengan lauk.

Komponen harga yang diatur pemerintah juga menyumbang inflasi sebesar 0,06 persen. Komoditas yang berpengaruh antara lain:

  • Bensin
  • Tarif angkutan antarkota
  • Sigaret Kretek Mesin (SKM)
Baca Juga:  Dapatkan Tiket Whoosh dengan Harga Spesial Lebaran, Simak Cara Mudahnya!

Meski ada kenaikan, dampaknya masih terbilang ringan dan tidak mengganggu stabilitas harga secara keseluruhan.

3. Tarif Angkutan Udara dan Emas Perhiasan Jadi Penahan Inflasi

Di sisi lain, ada beberapa komoditas yang justru memberikan efek deflasi. Tarif angkutan udara dan emas perhiasan masing-masing menyumbang deflasi sebesar 0,03 persen.

Ini menunjukkan bahwa meski ada lonjakan permintaan di sektor transportasi menjelang Lebaran, tarif penerbangan justru mengalami penurunan. Sementara itu, harga emas perhiasan yang cenderung stabil atau turun membantu meredam laju inflasi.

Distribusi Inflasi di Seluruh Provinsi

Dari sisi wilayah, sebagian besar provinsi di Indonesia mengalami inflasi pada Maret 2026. Tercatat 34 provinsi mengalami kenaikan harga, sedangkan 4 provinsi mengalami deflasi.

Inflasi Tertinggi dan Terendah

Provinsi Tingkat Inflasi
Papua Pegunungan 2,57%
Aceh 5,31% (yoy)
Lampung 1,16% (yoy)
Maluku -0,75% (deflasi)

Inflasi tertinggi secara bulanan terjadi di Papua Pegunungan, sementara deflasi terdalam tercatat di Maluku. Secara tahunan, Aceh mencatat inflasi tertinggi, dan Lampung berada di posisi terendah.

Inflasi Tahunan Maret 2026 Capai 3,48 Persen

Secara tahunan, inflasi Maret 2026 mencapai 3,48 persen. Angka ini lebih tinggi dibanding Maret 2025 yang hanya mencatat 1,03 persen. Perbedaan ini dipengaruhi oleh efek dasar harga yang rendah pada tahun sebelumnya.

Faktor Low-Base Effect Masih Terasa

Pada awal 2025, pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik untuk pelanggan prabayar. Meskipun tarif kembali normal pada Maret 2025, dampak dari kebijakan ini masih terasa hingga Maret 2026.

Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mencatat inflasi tahunan sebesar 7,24 persen, dengan kontribusi terhadap inflasi sebesar 1,08 persen.

Kelompok yang Mengalami Deflasi

Tidak semua kelompok mengalami kenaikan harga. Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan justru mencatat deflasi sebesar 0,03 persen.

Baca Juga:  Peruri Wujudkan Kebajikan Sosial untuk Kesejahteraan Bersama!

Kesimpulan: Inflasi Terkendali Meski Menjelang Lebaran

Meski berada di tengah siklus Ramadan dan Lebaran, inflasi Maret 2026 terbilang terkendali. Kenaikan harga terjadi, tetapi tidak sebesar yang diperkirakan. Ini menunjukkan bahwa stabilitas harga secara makro masih dalam batas wajar.

Namun, perlu diingat bahwa data ini bersifat dinamis dan dapat berubah seiring kebijakan pemerintah serta fluktuasi pasar. Masyarakat tetap perlu waspada terhadap kenaikan harga menjelang Lebaran, terutama pada komoditas pokok.

Disclaimer: Data inflasi bersifat sementara dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi ekonomi dan kebijakan yang berlaku.

Muhammad Rizal Veto
Reporter at anakhiv.id

Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.